08 Agustus 2017•Update: 09 Agustus 2017
Megiza Asmail
MAKASSAR
Menjadi seorang pelarian tidak pernah dibayangkan sama sekali oleh suku Rohingya di Myanmar. Konflik dan aksi kekerasan brutal yang melanda perkampungan mereka sejak 2008 silam, pun bukan sesuatu yang mereka inginkan.
Tetapi keinginan untuk melanjutkan hidup kaum Rohingya sangat besar. Melintasi lautan, menerjang ombak dan melawan panasnya matahari saat terombang-ambing berhari-hari di atas air menjadi salah satu tantangan demi merengkuh kehidupan yang nyaman, yang mereka dambakan.
Meski mampu memperpanjang umur dengan berhasil tiba ke negara kedua, kehidupan Rohingya ternyata tak terjamin menjadi lebih baik. Seperti yang dialami Rohingya di Indonesia, tepatnya di Makassar, Sulawesi Selatan.
Status pengungsi dan pencari suaka di Indonesia membuat Rohingya hanya dapat bebas menghirup udara dengan tenang, tapi tak bebas menjadi manusia seutuhnya.
Terlarang untuk bersekolah, mencari kerja, hingga menikah, dianggap sebagian Rohingya sebagai langit gelap yang hingga kini menggantung di kehidupan mereka. Pendidikan yang bisa mereka dapatkan hanya sebatas pelatihan Bahasa Inggris yang diberikan gratis oleh International Organization of Migration (IOM). Itu pun hanya tingkat dasar.
Soal kerja, jelas-jelas mereka dilarang. Tidak memiliki identitas yang pasti menjadi salah satu alasan Rohingya tak dapat membuat penghasilan sendiri. Mereka hanya bisa menunggu uang pemberian dari IOM dan UNHCR setiap bulan.
Kedua larangan itu menjadi hal yang pasrah dihadapi Rohingya. Meski berat, tapi mereka terpaksa harus menerimanya.
Namun, untuk larangan menikah agaknya menjadi hal yang paling sulit untuk dimaklumi mereka. Terlebih untuk kaum remaja pria Rohingya yang beranjak dewasa semasa di pengungsian.
Buat beberapa pria pengungsi Rohingya yang berada di Makassar, misalnya, jatuh cinta dengan wanita lokal dirasa sebagai hal yang susah untuk dihindari. Seperti yang diakui oleh Ali Johar, 27.
Saat ditemui Anadolu Agency, Ali bercerita telah menikah secara siri dengan wanita Makassar bernama Yuliani Zainal pada 18 Februari 2016 lalu. “Saya kenalan dengan dia tahun 2015. Kami saling suka, kemudian saya menikah dengan dia awal 2016,” singkat Ali.
Yuliani, 30, bercerita pertemuan mereka bermula dari salah satu temannya yang mengenalkan Ali. Dia merasa kasihan ketika mendengar perjalanan hidup Ali dari Myanmar hingga terdampar di Indonesia.
“Dia jujur, enggak ada yang disembunyikan. Dia cerita semua tentang keluarga dan kondisi di sana. Saya kasihan. Tidak tahu juga kenapa saya mau dinikahi dia, mungkin memang sudah jodoh,” kata Yuliani sambil tersenyum.
Dia melanjutkan, pernikahan secara agama dengan Ali direstui oleh kedua orang tuanya – namun tidak dapat dilakukannya secara hukum. Yuliani paham, bahwa seharusnya dia bersama Ali melapor ke Imigrasi sebelum menikah.
“Kalau menikah tidak diketahui nanti dikiranya mungkin saja akan ditinggal. Pihak Imigrasi berpikir, takutnya kami hanya dimainkan saja oleh mereka. Tapi saya yakin saja,” ujarnya.
Tentang pernikahan keduanya, Yuliani bercerita, acara dilakukan di kediamannya. Meski hanya sebatas nikah siri, tapi pesta pernikahan yang dilakukan dengan adat Bugis kala itu tetap digelar. Perayaan pernikahan campuran mereka dilakukan di wisma pengungsi yang selama ini menjadi tempat berteduh Ali.
Walau sudah sah secara agama, soal pemenuhan nafkah batin atau kebutuhan biologis, ternyata tidak mudah untuk ditunaikan oleh Ali. Alasannya, status menikah tidak serta merta membuat Yuliani dapat menetap di wisma pengungsi bersama suaminya.
“Karena istri tidak bisa tinggal di wisma, jadi malam hari dia (Ali) harus pulang ke wisma. Ya, kadang mereka nakal juga enggak pulang. Tapi ada security yang baik juga mengerti kondisi kami,” ceritanya.
Adapun mengenai kewajiban Ali untuk memenuhi kebutuhan lahir, Yuliani mengaku tidak cukup hidup hanya mengandalkan uang santunan dari UNHCR dan IOM yang diberikan tiap bulan. Terlebih ketika anak pertama mereka lahir.
“Saya masih dapat support (keuangan) dari keluarga karena uang Rp 1,2 juta itu tidak cukup. Belum lagi sekarang kami harus beli susu untuk baby. Kami berharap, baby juga dapat gaji dari UNHCR dan IOM,” jelasnya.