Rhany Chairunissa Rufinaldo
17 April 2020•Update: 17 April 2020
Karim El-Bar
LONDON
Pemerintah Inggris pada Kamis memperpanjang karantina negara hingga tiga minggu lagi setelah otoritas kesehatan mengumumkan 861 orang tewas akibat Covid-19 di negara itu dalam 24 jam terakhir.
Departemen Kesehatan melaporkan bahwa 327.608 orang telah diuji dan 103.093 di antaranya dinyatakan positif.
"Pada 15 April pukul 17.00, dari mereka yang dinyatakan positif virus korona dan dirawat di rumah sakit Inggris, 13.729 meninggal dengan menyedihkan," kata departemen itu.
Menteri Luar Negeri Dominic Raab mengatakan pada konferensi pers harian bahwa pemerintah memutuskan langkah-langkah yang dilakukan saat ini harus tetap dilakukan setidaknya selama tiga minggu ke depan.
Raab mewakili Perdana Menteri Boris Johnson yang masih dalam tahap penyembuhan dari infeksi virus.
Dia mengatakan keputusan itu diambil menyusul saran dari Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat (SAGE).
Raab mengatakan SAGE memperingatkan bahwa melonggarkan langkah akan berisiko merusak kesehatan masyarakat dan ekonomi dengan mengarahkan pada kebangkitan virus.
“Hal terburuk yang bisa kita lakukan adalah melonggarkan terlalu cepat. Ini akan menjadi hasil terburuk, tidak hanya untuk kesehatan masyarakat tetapi ekonomi dan negara secara keseluruhan,” Ujar dia.
Sang menteri memperingatkan semua pihak untuk menjaga upaya nasional ini karena Inggris sedang berada dalam tahap yang sulit.
"Sekarang bukan saatnya untuk memberikan virus korona kesempatan kedua," tambah dia.
Raab menetapkan lima faktor yang akan dipertimbangkan ketika karantina dicabut, yaitu jika Dinas Kesehatan Nasional dapat mengatasi wabah, penurunan berkelanjutan dan konsisten dalam tingkat kematian harian, tingkat infeksi turun ke tingkat yang dapat dikelola, pengujian yang memadai dan alat pelindung diri cukup untuk memenuhi permintaan, dan tidak ada puncak kedua.
Menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University Amerika Serikat, lebih dari 2,1 juta kasus telah dilaporkan di seluruh dunia sejak Desember lalu, dengan angka kematian lebih dari 144.000 dan lebih dari 543.000 dinyatakan sembuh.