Maria Elisa Hospita
13 Februari 2019•Update: 15 Februari 2019
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuding pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump ikut andil dalam krisis di negaranya dan menyebutnya "gerombolan ekstremis".
"Mereka mengeluarkan hasutan demi hasutan untuk mengambil alih Venezuela," ujar Maduro dalam wawancara khusus dengan BBC.
Dia pun berharap agar kelompok ekstremis di Gedung Putih dapat dibungkam oleh opini publik yang kuat di seluruh dunia.
Presiden Venezuela juga meyakini bahawa Trump termasuk dalam kelompok supremasi kulit putih.
"Mereka membenci kita, meremehkan kita, karena mereka hanya percaya pada kepentingan mereka sendiri, dan pada kepentingan Amerika Serikat," t" kata dia lagi.
Maduro juga menolak mengizinkan bantuan kemanusiaan asing masuk ke negaranya, karena Venezuela memiliki "kapasitas untuk memenuhi semua kebutuhan rakyatnya" dan tidak perlu "meminta-minta dari siapapun".
Menurut dia, AS bermaksud menciptakan krisis kemanusiaan untuk membenarkan intervensi militer.
"Semua ini adalah bagian dari sandiwara. Oleh karena itu, dengan segala hormat, kita katakan pada mereka bahwa kita tak membutuhkan bantuan dari mereka," tandas Maduro.
Dia juga mengatakan pada BBC bahwa sekitar 10 pemerintah mendukung Juan Guaido dan berusaha "memaksakan pemerintahan yang bahkan tak dipilih siapapun".
Venezuela telah diguncang gelombang protes sejak 10 Januari, ketika Presiden Nicolas Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua.
Ketegangan pun meningkat saat Presiden Majelis Nasional Venezuela Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara pada 23 Januari, yang didukung oleh negara-negara Eropa dan Amerika Latin.
Sementara itu, Rusia, Turki, China, Iran, Bolivia, dan Meksiko menyatakan dukungan untuk Maduro.