05 Agustus 2026•Update: 05 Agustus 2026
Polisi Korea Selatan menggeledah kantor pusat Starbucks Korea pada Rabu sebagai bagian dari penyelidikan atas dugaan penghinaan terhadap korban penumpasan militer terhadap gerakan prodemokrasi pada 1980. Kasus ini dipicu oleh kampanye pemasaran perusahaan yang dinilai membangkitkan kembali kenangan pahit atas tragedi tersebut.
Menurut laporan media setempat, penggeledahan dilakukan terkait promosi gelas pakai ulang bertajuk "Tank Day" yang diluncurkan jaringan kedai kopi tersebut bertepatan dengan peringatan Pemberontakan Gwangju.
Kantor Berita Yonhap melaporkan para pengkritik menilai promosi tersebut menghina para korban penumpasan militer di Kota Gwangju, Korea Selatan bagian barat daya, yang menewaskan sedikitnya 165 orang.
Kampanye itu langsung memicu reaksi keras dari masyarakat karena kata "tank" membangkitkan ingatan terhadap tindakan represif militer terhadap para demonstran prodemokrasi pada saat pemberontakan berlangsung.
Penggeledahan dilakukan setelah kepolisian pada Mei memulai penyelidikan terhadap jaringan kedai kopi tersebut atas dugaan pencemaran nama baik menyusul pengaduan yang diajukan sebuah kelompok masyarakat sipil terhadap Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin terkait dugaan penghinaan tersebut.
E-Mart, salah satu anak perusahaan utama Shinsegae Group, merupakan pemegang saham pengendali Starbucks Korea.
Penyelidik dalami dugaan unsur kesengajaan
Penyidik berupaya memastikan apakah para pejabat perusahaan dengan sengaja merancang kampanye promosi tersebut untuk menghina pihak-pihak yang terlibat dalam gerakan prodemokrasi.
Menyusul reaksi keras dari publik, pimpinan Starbucks Korea diberhentikan dari jabatannya, sementara Chung Yong-jin menyampaikan permintaan maaf atas kampanye tersebut.