Muhammad Latief
04 September 2017•Update: 05 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi deflasi sebesar 0,07 persen pada Agustus ini. Kepala BPS Suhariyanto pada Senin juga mengatakan, secara umum inflasi dari Januari hingga Agustus mencapai 2,53 persen, sementara inflasi year-on-year sebesar 3,82 persen.
Deflasi terjadi karena ada penurunan harga pada beberapa kelompok pengeluaran, seperti kelompok bahan makanan dan transportasi, komunikasi, serta jasa keuangan.
Pada kelompok bahan makanan terjadi deflasi 0,67 persen, sehingga memberi andil 0,14 persen dari total deflasi. Sektor transportasi, sebut Suhariyanto, menyumbang deflasi sekitar 0,60 persen.
“Ada penurunan [harga] bawang merah yang cukup tinggi [-11,79 persen], sehingga andilnya pada deflasi 0,07 persen. [Harga] bawang putih juga turun signifikan, sehingga memberi andil [pada deflasi] -0,05 persen,” terang dia.
Namun menurut Suhariyanto, ada komoditas yang perlu diwaspadai karena menunjukkan tren kenaikan, yaitu cabai merah, daging, dan garam.
Kesimpulan deflasi pada bulan ini merupakan hasil pengamatan pada 82 pasar di 82 kota. Hasilnya, 47 kota mengalami deflasi dan 35 kota lainnya mengalami inflasi.
Deflasi tertinggi terjadi di Ambon dengan angka 2,08 persen, dan terendah di Samarinda 0,03 persen. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe 1,09 persen dan terendah di Batam 0,01 persen.
Menurut Suhariyanto, deflasi terjadi bukan karena penurunan daya beli masyarakat, walau secara umum deflasi kerap dikaitkan dengan adanya gejala penurunan daya beli. Pada prinsipnya, permintaan masyarakat menurun sehingga menyebabkan stok barang menumpuk dan menurunkan harga di pasaran.
Deflasi pada Agustus ini, sebut Suhariyanto, terjadi karena keberhasilan pemerintah mengontrol harga bahan pangan dan mengendalikan administrators price (harga barang yang dikendalikan pemerintah) seperti BMM dan tarif listrik. Faktor lain karena adanya kebijakan dari Kementerian Perdagangan serta satgas pangan untuk menyetabilkan harga.
“Kalau soal daya beli itu tidak ada penurunan. Kita rilis, pertumbuhan konsumsi masyarakat kuartal II/2017 sebesar 4,95 persen. Lebih kuat daripada triwulan I/2017 yang hanya 4,94 persen. Tapi memang pertumbuhan melambat,” ujar Suhariyanto.