Muhammad Latief
31 Agustus 2017•Update: 01 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarmo mengatakan, setelah Jasa Marga menerbitkan produk sekuritisasi aset, hal serupa akan dikeluarkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Menteri Rini berucap kepada wartawan pada Kamis, proses sekuritisasi aset PLN masih dalam tahap penawaran dan diharapkan akan dicatatkan di bursa pada 15-16 September 2017.
Aset PLN, menurut Menteri Rini, yang akan menjadi sekuritas adalah pembangkit listrik dengan nilai sekitar Rp 5-10 triliun. “[Aset yang akan dijual] lihat demand dulu, karena melihat suku bunganya. Kita tidak mau terlalu tinggi suku bunganya.”
Presiden Joko Widodo pada kesempatan sebelumnya mengapresiasi PT Jasa Marga yang sudah berhasil meluncurkan produk sekuritas perdananya di bursa. Dia meminta hal ini menjadi role model BUMN maupun sektor swasta.
Presiden yang akrab disapa Jokowi ini meminta BUMN tidak menumpuk aset tetap (fix asset), namun mengubahnya menjadi asset life.
“BUMN seharusnya jadi developer, jangan senang jadi pemilik. Membangun, [setelah] jadi, dijual,” ujarnya saat ikut meluncurkan produk sekuritas aset perdana milik PT Jasa Marga di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.
“Dengan begitu, negara ini akan cepat selesai infrastrukturnya”.
Jokowi mencontohkan perusahaan-perusahaan terbesar di dunia yang juga tidak memiliki aset tetap. Perusahaan transportasi terbesar dunia, Uber, besar tanpa memiliki satu pun armada taksi. Demikian juga Airbnb, perusahaan penginapan, menjadi besar tanpa memiliki satu pun kamar hotel.
Direksi BUMN, menurutnya dituntut untuk berpikir bisnis digital seperti ini. “Ke depan memang gitu, jadi kalau memiliki fix asset jangan terus dikekepi [dipegang terus]. Ini musimnya sudah berubah, saya ingatkan pada dirut BUMN, BUMD, maupun swasta.”
Pelepasan aset agar bisnis semakin efisien, menurut Presiden Jokowi, sebenarnya sudah dimulai beberapa tahun lalu saat perusahaan sektor telekomunikasi ramai-ramai melepaskan kepemilikan atas menara transmisinya. Menara ini kemudian dikelola oleh perusahaan spesialis sehingga pengelolaannya efektif dan efisien.
Demikian juga mesin anjungan tunai mandiri (ATM) bank-bank BUMN yang dia perintahkan untuk digabung 2 tahun lalu, ketimbang memiliki sendiri-sendiri. Ternyata, terobosan itu mampu mengefisienkan perusahaan hingga Rp 30 triliun.