Pizaro Gozali İdrus
23 Maret 2018•Update: 24 Maret 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Ikatan Ulama Diaspora Palestina (IUDP) berkunjung ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berdialog mengenai rencana pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) ke Baitul Maqdis atau Yerusalem.
“Pemindahan itu sama saja memberi pengakuan terhadap Israel yang berambisi menjadikan Al-Quds sebagai ibu kota mereka,” ujar Ketua IUDP Nawaf Takruri kepada Anadolu Agency di Jakarta, Jumat usai pertemuan.
Menurut Nawaf, pemindahan yang akan dlilakukan pada 14 Mei tersebut bertepatan dengan dimulainya pendudukan Israel terhadap bangsa Palestina pada tahun 1948 silam, dimana saat itu Israel memproklamirkan diri sebagai negara.
Nawaf mengatakan persoalan ini akan di bawa lembaganya ke Turki, Malaysia, Sudan, Afrika Utara, dan berbagai negara-negara Islam lainnya.
“Kami ingin menyampaikan kepada para ulama agar senantiasa bergerak menghadapi ancaman yang nyata ini,” jelas Nawaf.
Nawaf secara khusus mengapresiasi MUI atas pembelaannya kepada Palestina dalam demonstrasi mengecam langkah Kedubes AS. Menurut Nawaf, aksi yang digerakkan oleh MUI itu bisa menekan pihak AS
“Kami berterima kasih terhadap rakyat Indonesia yang bisa berkata ‘tidak’ kepada AS lewat aksi-aksi protes yang mereka lakukan di depan Kedubes AS tempo hari,” kata Nawaf.
Nawaf juga optimis pemerintah Indonesia akan tetap mendukung Palestina sebagaimana ditunjukkan Presiden Joko Widodo di KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki, beberapa waktu lalu.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Zaitun Rasmin menegaskan kondisi Palestina hingga kini masih sangat memprihatinkan.
Zaitun mendorong adanya bantuan kemanusiaan yang bisa membantu warga Palestina.
“Al Quds sangat memerlukan bantuan umat Islam di seluruh dunia,” jelas Zaitun.
Wadah ulama diaspora
Nawaf mengatakan Ikatan Ulama Diaspora Palestina didirkan pada tahun 2009 dan kini berpusat di Istanbul, Turki.
Menurut Nawaf, lembaga ini dibentuk untuk menghimpun para ulama Palestina yang berdiaspora.
“Badan ini didiriakan bukan hanya untuk mengurusi perkara keilmuan syariah, tetapi juga untuk menyambungkan para ulama Palestina dengan para ulama umat Islam dunia,” terang Nawaf.
Menurut Nawaf, lembaganya fokus kepada ulama diaspora Palestina karena ulama yang dapat menggerakkan umat Islam.
“Ulama mampu memberikan motivasi yang meresap ke setiap hati umat Islam dunia. Motivasi yang lahir dari hati inilah yang menjadi motor utama bergeraknya umat,” jelas Nawaf.