Burc Eruygur
14 Agustus 2026•Update: 14 Agustus 2026
Presiden Rusia Vladimir Putin siap kembali bertemu dengan utusan Amerika Serikat jika mereka datang ke Moskow untuk membahas upaya perdamaian Ukraina, namun isi proposal yang dibawa Washington akan menjadi faktor utama dalam pembicaraan tersebut, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Jumat.
Dalam wawancara dengan Vesti, Lavrov ditanya apakah Utusan Khusus AS Steve Witkoff atau menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, memiliki pengaruh terhadap presiden AS.
Lavrov mengatakan jika keduanya telah dipercaya menjalankan peran tersebut, ia beranggapan "mereka memiliki pengaruh terhadap presiden AS dan dia mempercayai mereka."
"Kami tidak menolak berbicara dengan mereka, dan jika mereka datang, mereka tahu bahwa Presiden Putin siap menerima mereka kembali," kata Lavrov, menurut transkrip wawancara yang diterbitkan kementeriannya.
"Pertanyaannya adalah, apa yang akan mereka bawa?" tambahnya.
Pernyataan Lavrov disampaikan di tengah laporan bahwa Witkoff dan Kushner dapat mengunjungi Moskow serta ibu kota Ukraina, Kyiv, dalam beberapa hari mendatang.
Mengutip sejumlah sumber, kantor berita pemerintah Rusia Tass melaporkan kunjungan kedua utusan tersebut dapat berlangsung dalam waktu satu pekan hingga 10 hari sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali perundingan perdamaian Ukraina.
Moskow dan Kyiv sebelumnya mengatakan perundingan tersebut mengalami kebuntuan setelah Washington mengalihkan fokusnya ke perang Iran.
Pada Kamis, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov mengatakan Moskow siap menerima kedua utusan tersebut "setelah rencana mereka yang sebenarnya menjadi lebih jelas."
Ryabkov mengatakan kepada Tass bahwa kemungkinan kunjungan tersebut sedang dipertimbangkan di tengah munculnya laporan media secara berkala mengenai masalah itu.
Witkoff dan Kushner terakhir kali mengunjungi Moskow untuk bertemu Putin pada akhir Januari.
Lavrov juga menanggapi pertanyaan mengenai alasan Rusia tidak memberikan ultimatum kepada AS sebelum memasuki perundingan.
"Kami tidak mengeluarkan ultimatum," kata Lavrov.
"Kami telah menyampaikan sejumlah pertanyaan kepada Departemen Luar Negeri AS dan meminta tanggapan, termasuk mengenai data intelijen dan fakta bahwa AS terlibat jauh lebih dalam dalam mengatur dan melaksanakan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia terhadap sasaran sipil. Kami akan menunggu jawabannya," tambahnya.