Tarek Chouiref
06 Agustus 2026•Update: 06 Agustus 2026
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei saat ini berlangsung "sangat sulit".
Meski demikian, ia menyebut keberadaan Khamenei sebagai salah satu sumber kekuatan utama bagi Iran di tengah meningkatnya tekanan dari luar negeri.
Dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah Iran untuk memperingati dua tahun masa jabatannya, Pezeshkian mengatakan semakin terbuka para pejabat menyampaikan berbagai persoalan kepada pemimpin tertinggi, semakin mudah pula tercapai kesepahaman bersama.
Ia menggambarkan Khamenei sebagai sosok yang "luar biasa" dan mengaku terkesan dengan etika, kerendahan hati, serta cara berpikirnya.
Pezeshkian tuding ada upaya memecah belah Iran
Pezeshkian juga menuduh ada pihak-pihak yang berupaya "menciptakan perpecahan" di dalam negeri dengan memanfaatkan pesan yang disampaikan pemimpin tertinggi mengenai nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran.
Nota kesepahaman yang terdiri atas 14 poin itu ditandatangani pada 17 Juni 2026 oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pezeshkian untuk meresmikan gencatan senjata, mencabut blokade laut, serta mengakhiri operasi militer aktif.
Menurut laporan tersebut, Mojtaba Khamenei memberikan dukungan terbuka terhadap nota kesepahaman itu meskipun sebelumnya sempat menyampaikan sejumlah keberatan.
Iran sebut tekanan dari luar semakin meningkat
Pezeshkian mengatakan pihak-pihak yang menjadi lawan Iran terus meningkatkan tekanan melalui sanksi dan konfrontasi militer dengan tujuan memicu ketidakpuasan masyarakat dan mendorong terjadinya aksi protes.
Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai periode paling sulit sejak Revolusi Islam Iran pada 1979.
Perubahan kepemimpinan dan konflik dengan AS
Mojtaba Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran pada 8 Maret setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari.
Pergantian kepemimpinan tersebut terjadi ketika Iran terlibat konfrontasi militer langsung dengan Amerika Serikat setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata pada April, kemudian menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni untuk mengakhiri konflik militer dan mencapai perjanjian damai jangka panjang.
Namun, kesepakatan tersebut runtuh bulan lalu setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua pekan sebelum Presiden Donald Trump menghentikan pemboman secara mendadak di tengah munculnya laporan mengenai upaya penyelesaian konflik melalui perundingan.