Maria Hospita
16 Agustus 2017•Update: 16 Agustus 2017
Saad Aldouri
Penulis adalah asisten peneliti Program Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) di Chatham House, lembaga kebijakan yang berbasis di London. Bidang keahliannya adalah Irak dan kebijakan pemuda di wilayah MENA.
LONDON
Sudah sebulan sejak Mosul dinyatakan bebas oleh Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, namun tantangan untuk membangun kembali Mosul semakin tampak nyata.
Setelah pertempuran selama 8 bulan lamanya, yang menyebabkan kerusakan parah di seluruh penjuru kota, tantangan untuk menciptakan kembali mata pencaharian akan menentukan nasib negara dan kedudukan politiknya. Dengan populasi sebanyak 1,5 juta warga yang belum kembali ke Mosul, membangun dan menstabilkan Mosul kembali menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Memastikan bahwa keamanan akan terpenuhi di Mosul dan membangun kembali kepercayaan penduduk setempat terhadap pasukan keamanan menjadi tantangan pertama yang harus diselesaikan. Sejak dimulainya operasi pembebasan Mosul dari kependudukan Daesh, retribusi menjadi kekhawatiran yang terus menghantui, khususnya dari Pasukan Mobilisasi Populer (PMFs) yang berperan penting dalam memerangi Daesh di Irak.
Meskipun ada beberapa insiden dilaporkan, konfrontasi sektarian jarang terjadi di Mosul. Secara signifikan, serangan Mosul dipimpin oleh pasukan keamanan Irak tanpa ada keterlibatan PMFs. Oleh karena itu, Divisi Emas mendapat dukungan yang signifikan dari penduduk setempat atas usaha mereka menjaga warga sipil di Mosul.
Meskipun euforia kebebasan masih dirasakan di seluruh penjuru negeri, apakah kemajuan politik dapat dicapai oleh pemerintah daerah maupun nasional sehingga membangun kepercayaan kembali dari penduduk setempat masih menjadi pertanyaan.
Dalam hal ini, pemilihan umum mendatang akan menjadi tolak ukur untuk menilai kemampuan sistem negara Irak. Kemajuan politik dalam menstabilkan dan membangun kembali Mosul juga menentukan sampai sejauh mana Daesh dapat dibekukan dalam jangka panjang.
Membangun Mosul kembali
Operasi pembebasan Mosul telah menyebabkan kerusakan tertentu pada bangunan dan infrastruktur, terutama di wilayah barat Mosul.
Membangun kota kembali adalah tugas yang besar karena akan memakan waktu hingga bertahun-tahun lamanya, membutuhkan dana miliaran dolar, dan kerja sama yang kuat di antara pejabat-pejabat daerah, nasional, dan dukungan internasional. Mengingat Irak yang dirundung permasalahan korupsi, kesalahan manajemen, dan masalah keamanan di masa lalu, perdana menteri beserta kabinetnya harus berusaha lebih keras agar kekurangan tersebut dapat teratasi.
Menteri Perencanaan Salman al-Jumaili baru-baru ini mengumumkan rencana untuk merekonstruksi Mosul dan daerah-daerah lainnya yang bebas dari Daesh. Biaya perencanaan ini diperkirakan mencapai USD 100 miliar, dengan dana yang berasal dari pendapatan domestik, pinjaman, dan hibah internasional.
Sementara itu, rencana tersebut dinilai ambisius mengingat situasi ekonomi negara yang lemah. Perekonomian Irak masih sangat bergantung pada pendapatan minyak yang tercatat mengalami defisit kira-kira lebih dari 10 persen dari PDB pada 2016. Artinya, pemerintah Irak akan kesulitan untuk mencapai target sebesar USD 100 miliar.
Masa Depan Daesh
Meskipun Daesh telah terusir dari Mosul dan hampir seluruh daerah jajahannya di Irak, bukan berarti Daesh benar-benar mati.
Dampak sosial selama 3 tahun terakhir, serta ketegangan sektarian yang masih berlangsung, dan keberhasilan kelompok sebelumnya dalam menggunakan taktik pemberontakan, menunjukkan bahwa ancaman mereka masih akan ada selama beberapa tahun mendatang, saat mereka mulai ke kembali ke peperangan asimetris.
Sejarah Daesh di Irak sejak tahun 2003 menunjukkan bahwa Daesh adalah organisasi yang adaptif dan taktis. Oleh karena itu, kita harus waspada jika mereka kembali dengan metode siasat teroris dan pemberontak.
Dengan pemilihan umum provinsi dan nasional yang semakin dekat, kemungkinan Daesh untuk mengganggu jalannya proses dan kemajuan institusi adalah sangat besar. Unsur-unsur infrastruktur utama juga masih akan terus menjadi sasaran.
Salah satu contohnya adalah infrastruktur air Mosul yang disebut-sebut telah dirusak oleh kelompok militan. Memastikan keamanan dan stabilitas layanan infrastruktur akan menangkis keresahan penduduk setempat dan melumpuhkan eksistensi Daesh dalam jangka panjang.
Bagaimana pemerintah Irak menstabilkan kota dan memulai proses pembangunan kembali adalah langkah terpenting dalam tahap kritis ini. Dimulai dengan pelaksanaan 26 proyek konstruksi awal yang telah disetujui pemerintah dan memastikan keamanan dapat membantu membangun kepercayaan di antara penduduk setempat, serta mendorong ribuan pengungsi kembali ke Mosul.
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Anadolu Agency