Muhammad Nazarudin Latief
08 November 2017•Update: 08 November 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah mendorong pelaku industri animasi untuk mempunyai intellectual property (IP) berupa karakter animasi yang berciri khas Indonesia.
Sejauh ini, sebagian besar pelaku industri animasi di Indonesia sebatas mengerjakan pesanan dari pihak lain. Ide dan kreasi karakter hingga menjadi IP, belum banyak dilakukan.
“Jangan servise saja, tapi harus punya IP. Karakternya kita dorong sesuai budaya Indonesia,” kata Direktur Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Wawan Rusiawan, Rabu, di acara “Animasi Cikini”.
Hingga kini, Bekraf sudah mengidentifikasi 61 IP asli Indonesia dan menuliskannya dalam bentuk katalog. Beberapa karakter yang unik antara lain, Adit Sopo Jarwo, Si Juki, dan Diva the Series.
Minimnya kreasi IP, kata Wawan, bisa jadi berhubungan dengan sumber daya manusia industri ini yang didominasi lulusan sekolah kejuruan. Dengan tingkat pendidikan itu, mereka baru bisa menggarap pesanan-pesanan dari pihak lain, belum bisa mengkreasi karakter unik sendiri.
“Jadi setelah lulus SMK, ada pelatihan lagi yang harus ditempuh sebelum kerja,” ujar dia.
Selain soal SDM, industri animasi di Indonesia juga menghadapi persoalan biaya produksi yang tinggi. Satu tayangan animasi dengan durasi 22-24 menit bisa menghabiskan biaya lebih dari Rp50 juta, tergantung tingkat kerumitan.
Setelah menghadapi biaya produksi yang tinggi, para kreator akan berhadapan dengan masalah media tayang, yaitu televisi yang biasanya mematok harga murah.
“Pendapatan harusnya bukan hanya dari tayangan, tapi lisensi dan merchandising,” lanjut Wawan.
Untuk itu, Bekraf akan berusaha mempertemukan stasiun televisi, distributor, investor, atau agen untuk lebih mengenal IP karakter asli Indonesia. Bekraf juga akan memberi kesempatan para pelaku industri untuk menggunakan alat rendering milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
“Render ini kan mahal dan lama, kita fasilitasi untuk bisa akses alat rendering dari LIPI,” ujarnya.
Di Indonesia, kata Wawan, ada sekitar 22.000 pekerja kreatif yang tergabung dalam studio dalam berbagai skala, baik besar, kecil, maupun perorangan.
Bekraf akan mendetailkan data tersebut dengan mengelar survei pelaku industri animasi untuk membuat ranking perusahaan dan pertumbuhannya.