Chandni Vasandani
JAKARTA
“Temulawaknya delapan potong, kunyitnya enam potong, jahe tiga potong,” kata Juru Masak Presiden Joko Widodo (Jokowi), Tri Supriharjo, dalam video yang diunggah sang presiden lewat akun Facebook resminya beberapa waktu lalu. Selain teh pahit, rebusan ketiga bumbu dapur itu adalah minuman wajib yang harus dia sajikan di waktu sarapan Jokowi.
Orang nomor satu di Indonesia ini adalah satu dari sekian banyak masyarakat tanah air yang masih percaya khasiat jamu. Saat bertarung di pemilihan kepala daerah Jakarta pada 2014 lalu pun, Jokowi dengan terbuka mengakui meminum jamu setiap pagi untuk menjaga stamina.
Kebiasaan minum jamu di Indonesia bisa disebut sebagai salah satu warisan budaya. Bahan-bahannya mudah didapati di negara kaya rempah ini: akar-akaran, daun-daunan, dan buah-buahan. Meski dari ranah medis tak dikenali, namun ilmu herbal adalah praktik yang jamak dilakukan oleh masyarakat Timur, berakar urat sejak ribuan tahun lalu.
Dalam buku Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing karya Susan-Jane Beers, penggunaan tanam-tanaman bahan jamu ini bahkan tak hanya diminum. Tapi juga dipakai untuk berbagai produk pengobatan, kosmetik, bahan pijat dan relaksasi, serta suplemen pencegah penyakit.
Tapi meski tradisional, jamu juga butuh kemasan kekinian agar dia tak tertelan zaman.

Dinikmati sambil nongkrong
Kafe itu terletak di salah satu ruas jalan tersibuk di selatan Jakarta, Gandaria. Dekorasinya penuh dengan pernak pernik retro: sepeda onthel, poster-poster tua, dan foto-foto lawas. Nova dan Uwi Manthovani, pemilik kafe bernama Suwe Ora Jamu (yang namanya dipetik dari sebuah tembang dolanan populer di Jawa Tengah dan secara harafiah berarti “lama tak minum jamu”) tersebut, tampak ingin menyelaraskan konsep jadul-tak-berarti-ketinggalan-zaman di tempat itu.
Selain desain interiornya, Suwe Ora Jamu menghadirkan menu yang tak kalah klasik, yaitu berbagai olahan jamu tradisional dan modern serta camilan khas Indonesia.
Konsep ini ternyata laku di kalangan anak muda. Di akhir pekan, restoran ini bisa melayani hingga 100 orang yang mencari tempat nongkrong anti-mainstream. Ini diartikan Nova sebagai keberhasilannya dalam menghadirkan jamu secara cool, keren untuk anak muda.
“Keren atau tidak keren itu tergantung dari bagaimana kita mengemas dan memosisikan produk. Tapi tentu, kita harus yakin kalau produk kita berkualitas dan terjaga,” kata dia.
Pengunjung memburu jamu-jamu yang kini sulit ditemukan di ibu kota. Sementara buat mereka yang belum pernah minum jamu dan tak terbiasa dengan rasa getir minuman ini, Nova meracik minuman dari bahan herbal. Dia menambahkan es, gula, atau perasan jeruk agar rasanya lebih ramah di lidah.
Harga yang dipatok pun tak mahal, hanya Rp 25-30 ribu per porsi. Lebih murah ketimbang menyeruput kopi di gerai asal luar negeri yang kini merebak di Jakarta. Dengan gaya kekinian, Suwe Ora Jamu menarik pangsa pasar anak-anak muda. Slogannya pun menunjukkan itu: “Nongkrong nggak harus ngopi”.
Tapi sejatinya, masih banyak juga masyarakat Jakarta yang memburu jamu, meski tanpa diiming-imingi ruangan berpendingin dan kemasan cantik. Mereka mencari jamu karena percaya pada khasiatnya.

Jamu masih laku
Jamu identik dengan tanah Jawa. Bisa dibayangkan, saat urbanisasi melanda dan orang-orang Jawa berpindah ke kota, kebiasaan minum jamu tak lantas hilang. Inilah yang menyebabkan banyaknya “mbak jamu” dari Jawa, turut pindah ke kota-kota besar untuk jualan jamu. Umumnya mereka menjajakan jamu dengan berkeliling dari rumah ke rumah.
Sekarang, sudah jarang mbak jamu yang berkeliling. Mereka lebih memilih “mangkal” alias berdiam di satu tempat, menunggu pembeli datang. Bu Harni yang kini berjualan di Pasar Sunter, misalnya. Ketimbang berkeliling namun tak pasti laku sampai habis, “Saya menunggu saja di sini sampai [jamunya] habis. Sehari 60-an gelas,” kata dia.
Pelanggan setianya berasal dari berbagai usia, anak-anak sekalipun. Yang paling laku, menurut dia, adalah kunyit asam. “Biar awet muda. Rasanya juga segar, tidak pahit,” lanjut dia sembari tertawa.
Di sisi lain Jakarta, Horatius Romuli tahu benar soal khasiat jamu. Pria ini adalah generasi ketiga pemilik Warung Jamu Bukti Mentjos (WJBM) di Salemba, Jakarta Pusat. Rutinitasnya tak ubahnya bartender di bar-bar luar negeri, mendengarkan curhat pelanggannya lalu meracik minuman buat mereka. Tapi alih-alih cocktail, Romuli membuatkan ramuan jamu sambil menjelaskan khasiat minuman itu.
Resep seluruh jamu yang dibuat Romuli di kedainya tak berubah sejak 1950-an, ketika ayah dari kakeknya pertama kali mendirikan WJBM. Kebanyakan pelanggan Romuli memang orang Jawa, namun menurutnya, “Jamu itu ada di mana-mana, termasuk Aceh, Papua, dan Kalimantan. Tapi gudang terbesar jamu memang di Jawa Tengah.”
Di WJBM, semua jamu dibuat sendiri oleh staf yang sudah bertahun-tahun bekerja dan kenal baik dengan ramuan khas kedai tersebut. Produk-produk mereka dibuat dari rempah-rempah seperti temulawak, kayu manis, kapulaga, adas, cabai jawa, dan lain-lain.
“Bahan-bahan yang kami pakai sudah dikenal oleh orang Indonesia dan sudah dipakai sejak zaman dulu. Tidak semua tanaman obat bisa digunakan untuk jamu, kami juga mengikuti rekomendasi Depkes [Departemen Kesehatan RI] mengenai tanaman yang aman dikonsumsi,” jelas Romuli.
Adanya keinginan mengonsumsi produk organik tanpa bahan kimia yang berlebih juga menjadi salah satu alasan mengapa banyak yang masih berpegang pada jamu sebagai pengobatan.
Marlin, salah seorang pengunjung WJBM, mengaku lebih menyukai minum jamu untuk menjaga kemulusan kulitnya ketimbang memakai produk kecantikan.
“Jamu ini untuk wajah dan kulit saja, agar tidak jerawatan, tidak lusuh. Saya takut kalau pakai krim atau obat dokter, efek sampingnya banyak atau tidak cocok di kulit saya,” kata Marlin.
Namun walaupun berpegang pada resep warisan, Romuli juga sadar akan pentingnya berinovasi sembari tetap menomor satukan khasiat jamu. Oleh karena itu, banyak dari produk-produknya sudah tersedia dalam bentuk instan, yaitu dalam kemasan seporsi dan siap dibawa pulang pelanggannya.
news_share_descriptionsubscription_contact



