Muhammet Emin Avundukluoğlu
28 April 2021•Update: 28 April 2021
ANKARA
Pemimpin partai oposisi utama Turki pada Selasa menyerukan penyelidikan peristiwa 1915 oleh para ahli sejarah.
"Peristiwa 1915 menyakitkan kita semua dan harus diperiksa jika perlu. Misi ini tidak boleh dilakukan oleh politisi tetapi oleh sejarawan," kata Kemal Kilicdaroglu, pemimpin Partai Rakyat Republik (CHP), kepada kelompok parlemen partainya.
Kilicdaroglu mencatat bahwa Turki telah membuka arsipnya untuk semua sejarawan di seluruh dunia.
“Armenia juga harus membuka arsipnya sehingga sejarawan bisa mengakses informasi yang sebenarnya,” ujar dia.
Kilicdaroglu mengatakan mereka tidak pernah menerima bayangan negara asing yang akan menimpa Turki.
"Kami tidak pernah menerima opini dan bayang-bayang dari kekuatan kekaisaran di Turki," tambah dia.
Pada Sabtu, Biden menyebut Peristiwa 1915 sebagai "genosida", yang melanggar tradisi lama yang dipegang oleh presiden AS untuk tidak menggunakan istilah tersebut.
Sikap Turki soal Peristiwa 1915
Posisi Turki pada Peristiwa 1915 adalah bahwa kematian warga Armenia di Anatolia timur terjadi ketika sejumlah pihak berpihak pada invasi Rusia dan memberontak melawan pasukan Ottoman. Relokasi warga Armenia kemudian mengakibatkan banyak korban.
Turki keberatan dengan penyajian insiden ini sebagai "genosida," menggambarkannya sebagai tragedi di mana korban jiwa timbul di kedua belah pihak.
Ankara telah berulang kali mengusulkan pembentukan komisi bersama sejarawan dari Turki dan Armenia serta pakar internasional untuk menangani masalah tersebut.
Pada 2014, Erdogan menyampaikan belasungkawa kepada keturunan Armenia yang kehilangan nyawa dalam peristiwa 1915.