Muhammad Abdullah Azzam
28 Oktober 2020•Update: 28 Oktober 2020
Ruslan Rehimov
BAKU, Azerbaijan
Sedikitnya empat warga sipil tewas dan 10 lainnya mengalami luka-luka setelah tentara Armenia menyerang pemukiman sipil di wilayah Azerbaijan selama pelanggaran gencatan senjata.
Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan tentara Armenia menembaki kota Goranboy, Tartar, dan Barda dengan peluru meriam dan rudal.
Empat warga sipil, termasuk dua wanita dan seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, tewas dan 10 lainnya terluka dalam serangan rudal di Barda, kata Hikmet Hajiyev penasehat presiden Azerbaijan, di Twitter.
“Armenia terus melakukan kejahatan perang,” kata Hajiyev.
Gencatan senjata kemanusiaan sementara terbaru yang ditengahi Amerika Serikat (AS) antara Azerbaijan dan Armenia diumumkan pada Minggu dan mulai berlaku pada Senin pukul 8 pagi waktu setempat.
Sejak bentrokan meletus pada 27 September, Armenia berulang kali menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan, bahkan melanggar tiga gencatan senjata kemanusiaan sejak 10 Oktober. Hingga saat ini sedikitnya 65 warga sipil Azerbaijan tewas dan 297 lainnya terluka.
Hubungan antara dua bekas republik Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, atau Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional, dan tujuh wilayah lainnya yang berdekatan.
Empat resolusi Dewan Keamanan PBB dan dua dari Sidang Umum PBB serta organisasi internasional menuntut "penarikan segera pasukan pendudukan, lengkap dan tanpa syarat" dari wilayah Azerbaijan yang diduduki.
Secara total, sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan diduduki secara ilegal selama hampir tiga dekade. Gencatan senjata disetujui pada tahun 1994.
Kekuatan dunia termasuk Rusia, Prancis dan AS menyerukan gencatan senjata yang abadi. Turki, sementara itu, mendukung hak Baku untuk membela diri dan menuntut penarikan pasukan pendudukan Armenia.