Muhammad Abdullah Azzam
19 April 2019•Update: 19 April 2019
Eşref Musa, Burak Karacaoğlu
IDLIB
Setidaknya tujuh warga sipil tewas dan empat lainnya terluka dalam serangan pasukan rezim Suriah dan kelompok-kelompok teroris asing dukungan Iran ke sebuah kota tenda di Idlib, ungkap White Helmets.
Pasukan rezim Bashar al-Assad menyerang dengan senjata berat seperti roket, dan mortir ke desa Um Jalal dan Um Tuwainah di tenggara Idlib.
Badan Pertahanan Sipil (White Helmets) di Idlib Mustafa Haj Yusuf mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa serangan pasukan rezim ke sebuah permukiman tenda yang dihuni warga sipil di desa warga Um Tuwainah menewaskan 7 warga sipil tewas, di antaranya tiga anak-anak dan tiga wanita.
Sementara empat warga sipil lainnya menderita luka-luka.
Rezim Bashar al-Assad di Suriah dan kelompok-kelompok teror yang didukung Iran menyerang zona de-eskalasi Idlib 6.422 kali pada Maret, menurut badan pertahanan sipil White Helmets.
Melanggar perjanjian antara Turki dan Rusia yang ditandatangani pada 17 September 2018, pasukan rezim terus menyerang wilayah selatan dan tenggara Idlib dan bagian utara serta barat laut Hama.
Menurut data yang dikumpulkan Anadolu Agency dari White Helmets, pasukan pro-rezim menyerang Hama sebanyak 3.950 kali, Aleppo 299 kali dan Idlib 2.087 kali menggunakan roket, baik dari darat maupun udara.
White Helmets juga mencatat 86 serangan udara dari pasukan rezim terhadap warga sipil di Idlib.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR) pada 2 April, sebanyak 135 warga sipil kehilangan nyawa akibat serangan rezim Assad, kelompok-kelompok teroris yang didukung Iran dan serangan Rusia pada Maret.
Sepanjang 9 Februari hingga 6 April, 160.583 warga sipil dari 25.776 keluarga terpaksa bermigrasi ke daerah-daerah di sekitar perbatasan Turki, menurut LSM setempat.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan mitranya dari Rusia Vladimir Putin pada September lalu sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi dilarang.
Suriah baru saja mulai keluar dari konflik dahsyat sejak 2011, ketika rezim Assad menindak demonstran dengan tingkat keganasan tak terduga.