Erric Permana
JAKARTA
Ulama Indonesia diminta untuk memberikan saran dalam pertemuan bilateral antar ulama Afghanistan dan Pakistan yang akan diselenggarakan pada Oktober mendatang.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pertemuan antar ulama ini sangat penting bagi perdamaian kedua negara tersebut. Pertemuan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan antar ulama di kedua negara.
“Mereka melihat bahwa pertemuan ulama ini mejadi semacam fondasi bagi trust building di antara para ulama,” ujar Menteri Retno usai mendampingi Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dalam pertemuan dengan Chief Executive of Afghanistan, Kamis.
Menteri Retno menyampaikan rasa terima kasih Indonesia karena dilibatkan dalam pertemuan antar ulama tersebut. Menurut dia, Afghanistan juga menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia karena terlibat dalam perdamaian di negara itu.
“Dalam pidato chief executive di Sidang Umum PBB dan KTT Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Islam (OKI) secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Indonesia karena berperan dalam proses perdamaian,” tambah dia.
Sebelumnya, Indonesia dan Afghanistan sepakat melakukan kerja sama di bidang ekonomi, selain kerja sama menciptakan perdamaian di Afghanistan.
Hal ini terungkap saat Chief of Executive Afghanistan Abdullah Abdullah melakukan kunjungan kehormatan ke Istana Merdeka dan Istana Wakil Presiden di Jakarta dan bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Dalam pertemuan dengan Jusuf Kalla, Abdullah membahas mengenai peningkatan kerja sama di bidang ekonomi.
"Kita memajukan hubungan baik di bidang ekonomi, industri dan juga pertambangan, dan bagaimana Indonesia dapat mendukung dan mengambil peran dalam upaya perdamian di Afghanistan," ujar Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta pada Kamis.
Untuk kerja sama di bidang ekonomi, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan Afghanistan ingin mengekspor barang produksinya ke Indonesia. Mereka pun, kata dia, meminta adanya perlakuan khusus terhadap barang ekspor tersebut.
“Mereka merasa bahwa produk mereka itu kalau masuk ke Indonesia tanpa special treatment itu sulit bersaing, tapi kita dorong. Mereka kan punya bahan baku yang cukup kuat di herbal untuk farmasi,” jelas Airlangga.
news_share_descriptionsubscription_contact
