Adnan Idriz, Besar Ademi dan Fatjon Cuka
14 Juni 2018•Update: 15 Juni 2018
Adnan Idriz, Besar Ademi dan Fatjon Cuka
BELGRADE, Serbia
Albania akan mencegah Organisasi Teror Fetullah (FETO) yang mungkin memengaruhi sistem pendidikan mereka, kata Perdana Menteri Edi Rama.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di Amerika Serikat Fetullah Gulen mengatur kudeta Turki yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, yang menewaskan 250 orang dan melukai hampir 2200 orang.
Ankara menuduh FETO berada di belakang kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan.
FETO juga menjalankan jaringan sekolah swasta di negara-negara asing.
Dalam wawancara dengan Anadolu Agency pada hari Senin, Rama mengatakan bahwa di masa lalu beberapa sekolah yang dijalankan oleh FETO ada di negaranya.
Dia mengatakan pemerintah Albania telah berkomitmen untuk menggagalkan pengaruh "negatif" kelompok teror FETO di negara tersebut dan pada sektor pendidikannya.
"Kami sangat berhati-hati dengan masalah ini. Kami memiliki semua alasan untuk mempertahankan sikap kami atas upaya kudeta, sebuah ancaman serius yang tidak ingin kami lihat di negara kami sama sekali."
Dalam kesempatan itu, PM Rama juga memuji Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
"Hubungan saya dengan Presiden [Erdogan] dimulai bahkan sebelum saya bertemu dengannya. Saya kagum dengan pekerjaannya yang luar biasa sebagai wali kota Istanbul. Setelah itu, saya memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya secara pribadi dan hubungan kami berkembang berdasarkan rasa saling menghormati."
- Kebijakan Uni Eropa tentang Kosovo
Mengacu pada perkembangan di wilayah ini, Rama menggambarkan kebijakan Uni Eropa tentang Kosovo sebagai hal yang "sangat memalukan."
"Saya telah dengan jelas mengatakan bahwa saya tidak setuju dengan Uni Eropa yang mengisolasi Kosovo dan fakta bahwa itu menjadikan satu-satunya masyarakat yang tidak memiliki hak atas kebebasan bergerak di seluruh benua," kata Rama.
Kosovo adalah satu-satunya negara Balkan Barat tanpa pembebasan visa ke negara-negara anggota UE.
Rama mengatakan Islamophobia sebagai kutukan dari era baru.
"Kekuatan di negara-negara yang paling maju di Uni Eropa, atau individu tertentu, memicu api yang sangat berbahaya ini. Ini bukan hanya tentang Islam, tetapi tentang orang-orang yang percaya pada Islam dan yang mewakili moderasi Islam, ketidakadilan besar bagi masyarakat, komunitas, dan keluarga."
"Diskursus Islamofobia dan Turkophobia adalah wacana arogan yang muncul dari ketidaktahuan. Menyerang agama Islam dan menunjukkan sikap Islamofobia sebenarnya adalah serangan terhadap akar penting Albania dan pada asal-muasal kebangsaan kita," kata Rama.
Diketahui, Albania dan Kosovo sedang mencari kesempatan untuk pencalonan keanggotaan, sementara Serbia dan Montenegro dari wilayah Balkan Barat sedang bernegosiasi untuk keanggotaan UE.