JAKARTA
Jam menunjukkan pukul 1 siang. Rifeni, 31, buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan langsung menyetir mobil menuju Padalarang, Jawa Barat.
Rute Bekasi – Padalarang jadi rutinitas Feni setiap Sabtu. Perjalanan yang memakan waktu hingga tiga jam ini ditempuh sendirian demi menjemput adik laki-lakinya, Rifano.
Rifano atau biasa disapa Fano, 25, didiagnosis autis saat berusia dua tahun. Saat itu menurut Feni, pengetahuan tentang autisme belum banyak di Indonesia. Awalnya dokter anak malah menyimpulkan Fano hanya telat bicara.
“Fano waktu itu telat ngomong. Dia bisa bersuara tapi tidak bisa mengolah kata,” ucap Feni.
Autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering disebut autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku
Penyebab autisme ini belum diketahui, namun para ahli mengidentifikasi adanya beberapa gen yang dicurigai memiliki kaitan dengan ASD.
Saat ini Fano mengikuti terapi berbasis asrama di Yayasan Pelangi Hati Indonesia Padalarang. Sudah 3 tahun dia berada di asrama khusus anak dengan autisme ini.
Di tempat itu Fano akan melakukan terapi motorik halus dan motorik kasar. Selain itu Fano juga akan diajar untuk lebih mandiri.
“Jadi bisa sikat gigi sendiri atau mandi sendiri,” jelas Feni kepada Anadolu Agency baru-baru ini.
Mampu hidup mandiri menjadi salah satu tujuan utama Feni untuk mengirim adiknya ke asrama. Keputusan ini tidak dibuat sembarangan. Dia sempat konsultasi dengan seorang terapis. Feni sangat paham, anak dengan autisme harus punya bekal untuk hidup mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya kepada orang lain.
“Kalau sama orang tua mereka bakalan manja dan tidak patuh,” lanjut Feni.
Feni rela jauh-jauh menjemput adiknya agar keluarga bisa berakhir pekan bersama. Biasanya mereka akan berjalan-jalan di sekitar rumah, dan pada Minggu Feni mengantar kembali Fano kembali asrama.
“Jadi dia [Fano,red] tahu dia punya rumah, merasa punya keluarga, tidak cuma di asrama aja,” kata Feni.
Perjuangan Feni untuk merawat adiknya menjadi lebih sulit saat pandemi Covid-19. Apalagi di masa rentan ini semua orang tanpa terkecuali harus menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker atau mencuci tangan.
Menurut Feni, yang paling sulit adalah menyuruh Fano memakai masker.
“Paling susah [disuruh] pakai masker. Sebentar-bentar dia buka, terus pasang lagi,” kata Feni.
Yang bisa dilakukan Feni hanyalah membatasi Fano untuk keluar rumah. Kalau Fano bosan, Feni akan mengajak adiknya jalan-jalan menggunakan mobil tanpa harus mampir ke suatu tempat.
Dokter spesialis anak, Rudy Sutadi mengamini tantangan yang dihadapi anak dengan autisme selama masa pandemi Covid-19.
Menurut dia, pemakaian masker memang jadi hal yang paling sulit sebab akan memicu kecemasan bagi anak dengan autisme.
“Anak dengan autisme akan sulit dipakaikan masker, dia akan lepas-lepas lagi karena pertama hyper sensitif di mukanya,” kata Rudy saat dihubungi Anadolu Agency.
Rudy menyarankan di masa pandemi seperti saat ini, anak dengan autisme melakukan terapi ABA (Applied Behavior Analysis) dan BIT (Biomedical Intervention Therapy) sehingga mampu menerapkan protokol kesehatan.
ABA merupakan analis perilaku terapan, di mana menggunakan prosedur perubahan perilaku untuk mengajarkan anak dengan autisme menguasai berbagai kemampuan ataupun aktivitas.
“Dengan terapi ABA, anak dengan autisme bisa pakai masker,” terang dia.
Sedangkan BIT berfokus pada memperbaiki berbagai masalah kesehatan. BIT terdiri dari diet, medikamentosa atau obat-obatan dan suplemen.
“Jadi pada autisi, diet atau pola makan harus dijaga,” lanjut Rudy.
Sementara itu, menurut Dosen Pendidikan Khusus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS), Joko Yuwono sebaiknya anak dengan autisme tetap berada di rumah agar bisa terawasi dan terlindungi dari bahaya virus covid-19
Namun yang juga tak kalah penting, kata dia, akses pendidikan harus tersedia bagi anak dengan autisme.
Menurut dia guru dapat menyiasati dengan mengembangkan kreativitasnya untuk menjangkau anak-anak yang berada di rumah.
"Begitu pun orangtua dapat memaksimalkan aktivitas di rumah sebagai bagian dari stimulasi perkembangan anak agar tetap tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan," ungkap dia melansir laman UNS.
Setiap tahun, tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Kesadaran Autisme sedunia atau World Autism Awareness Day.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Dunia Kesehatan WHO, autisme terjadi pada 1 dari 160 anak di seluruh dunia.
Hingga saat ini, belum ada angka pasti berapa jumlah anak dengan autisme di Indonesia. Namun Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) memprediksi penyandang autisme di Indonesia ada 2,4 juta orang dengan pertambahan 500 orang per tahun.