Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 Maret 2019•Update: 05 Maret 2019
Riyaz ul Khaliq
ANKARA
China pada Senin memberi pembelaan soal pengeluaran pertahanannya, dengan mengatakan bahwa jumlah tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi negara mana pun, ungkap sebuah laporan media.
Menurut Press Trust of India, sebuah kantor berita India, juru bicara Kongres Rakyat Nasional Zhang Yesui mengatakan kepada wartawan di Beijing bahwa pengeluaran pertahanan negara itu masih kurang dibandingkan dengan pengeluaran militer negara-negara berkembang besar lainnya.
China adalah militer dengan pengeluaran terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
"Apakah suatu negara merupakan ancaman militer terhadap orang lain atau tidak, tidak ditentukan oleh peningkatan dalam pengeluaran pertahanan, tetapi oleh kebijakan pertahanan asing dan nasional yang diterapkan," kata Zhang seperti dikutip oleh kantor berita itu.
Pada 2018, Beijing telah meningkatkan anggaran pertahanannya sebesar 8,1 persen, menjadikan pengeluaran pertahanannya mencapai USD175 miliar.
“Dibandingkan dengan negara lain, anggaran pertahanan Tiongkok menghabiskan 1,3 persen dari PDB, sementara negara-negara berkembang besar menghabiskan dua persen PDB untuk pertahanan mereka,” tambah Zhang.
Menurut ECNS, sebuah kantor berita yang berbasis di Beijing, Zhang mengatakan bahwa minat China dan AS saling terkait dan konfrontasi tidak menguntungkan siapa pun.
“China tetap berkomitmen seperti biasa untuk pembangunan dengan jalan damai dan kami mengejar kebijakan pertahanan nasional yang defensif. Pengeluaran pertahanan China yang terbatas adalah untuk menjaga kedaulatan, keamanan dan integritas teritorial negara. Itu bukan ancaman bagi negara lain,” tambahnya.