Michael Hernandez
11 Oktober 2022•Update: 24 Oktober 2022
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berjanji untuk terus menyediakan Ukraina dengan senjata yang dibutuhkan untuk mempertahankan diri dari serangan Rusia, termasuk memberikan sistem pertahanan udara canggih, menyusul serangan luas Kremlin pada Senin.
Selama percakapan telepon dengan presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Biden menyampaikan kecamannya atas serangan rudal Rusia di seluruh Ukraina, termasuk di Kyiv, dan menyampaikan belasungkawa kepada orang-orang terkasih dari mereka yang jadi korban tewas dan terluka dalam serangan yang tidak masuk akal ini, kata Gedung Putih.
"Presiden Biden berjanji untuk terus memberikan dukungan yang dibutuhkan Ukraina untuk mempertahankan diri, termasuk sistem pertahanan udara canggih," kata dia dalam sebuah pernyataan.
“Dia juga menggarisbawahi keterlibatannya yang berkelanjutan dengan sekutu dan mitra untuk terus menuntut pertanggungjawaban pada Rusia atas kejahatan dan kekejaman perangnya, dan memberikan Ukraina bantuan keamanan, ekonomi, dan kemanusiaan,” tambah pernyataan itu.
Zelenskyy secara terpisah mengatakan sistem pertahanan udara adalah "prioritas nomor satu Kyiv dalam kerja sama pertahanan kami" dengan AS.
"Kami juga membutuhkan kepemimpinan AS dengan sikap keras G7 dan dengan dukungan untuk resolusi Majelis Umum PBB," kata presiden Ukraina di Twitter.
Korban tewas dari serangan Rusia di Ukraina bertambah menjadi 19 orang, dengan puluhan lainnya terluka. Sekitar 64 orang terluka selama penembakan itu, menurut Layanan Darurat Negara Ukraina.
"Jika kita berbicara tentang seluruh Ukraina, maka, selain Kyiv, serangan juga tercatat di 14 wilayah lain di negara bagian itu," kata Mariana Reva, juru bicara Kepolisian Nasional Ukraina.
Dalam pesan video yang dirilis di Telegram, Zelenskyy mengatakan fasilitas energi Ukraina dan masyarakat adalah dua target utama Rusia. Presiden kembali menyerukan agar warga tetap tinggal di tempat perlindungan.
Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal mengatakan serangan Rusia merusak total 11 situs infrastruktur penting di delapan wilayah Ukraina, menurut Kyiv Independent.
"Tujuan utama para penjahat perang ini adalah untuk menabur kepanikan, untuk menakut-nakuti, dan untuk membuat Ukraina tanpa cahaya dan panas," tambah Shmyhal.