Michael Hernandez
WASHINGTON
Amerika Serikat dan PBB menyampaikan kekhawatiran mereka pada Kamis menyusul dirilisnya sebuah laporan mengenai kuburan massal di Rakhine state, Myanmar.
Penyelidikan yang diadakan oleh kantor berita Associated Press (AP) itu menemukan apa yang diggambarkan sebagai setidaknya lima kuburan massal yang baru ditemukan di area konflik tersebut.
"Kami melihat beberapa jasad yang saling ditumpuk," kata Noor Kadir, seorang saksi mata yang menemukan dua titik kuburan kepada AP.
Pemerintah Myanmar menyangkal semua tuduhan yang mengatakan mereka melakukan pembunuhan massal terhadap minoritas Muslim Rohingya, namun laporan AP menunjukkan adanya "pembunuhan sistematis" yang dilakukan militer Myanmar.
Penemuan kuburan itu, menurut AP, adalah bukti terbaru mengenai tindakan genosida yang dilakukan Myanmar.
PBB mengatakan laporan itu "menunjukkan pentingnya agar PBB dibolehkan masuk ke Rakhine state".
"Kami tidak memiliki akses yang kami minta, dan sangat penting bagi kami memiliki akses untuk memverifikasi laporan-laporan ini," kata Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal Antonio Guterres.
AS mengatakan "sangat khawatir" membaca laporan itu dan setuju dengan langkah PBB meminta akses untuk kawasan tersebut.
"Kami tetap fokus membantu memastikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di sana," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Heather Nauert.
"Dengan bantuan ahli forensik, investigasi menyeluruh bisa memberikan gambaran akurat mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dunia patut tahu."
Sejak 25 Agustus, lebih dari 650.000 warga Rohingya menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB.
Rohingya, yang disebut PBB sebagai orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan meningkat atas serangan yang membunuh puluhan orang pada kekerasan komunal pada 2012.
Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine antara 25 Agustus dan 24 September, menurut lembaga Dokter Lintas Batas (MSF).
Dalam sebuah laporan tertanggal 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen Rohingya atau sekitar 6.700 orang tewas akibat kekerasan. Itu termasuk 730 anak-anak dibawah usia 5 tahun.
PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak-anak — pemukulan brutal, dan penghilangan oleh petugas keamanan.
news_share_descriptionsubscription_contact
