Maria Elisa Hospita
28 Desember 2017•Update: 28 Desember 2017
Diyar Guldogan
ANKARA
Amerika Serikat (AS) dan Rusia telah sepakat untuk bekerja sama menyelesaikan permasalahan program rudal balistik dan nuklir Korea Utara secara diplomatik, kata Departemen Luar Negeri AS, Rabu.
Menurut juru bicara Deplu Heather Nauert, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dan Menlu Rusia Sergey Lavrov akhirnya menyepakati hal itu lewat sambungan telepon pada Selasa.
"Keduanya membahas soal destabilisasi program nuklir Republik Rakyat Demokratik Korea dan menekankan bahwa baik AS maupun Rusia menolak Korea Utara sebagai kekuatan nuklir," jelas Nauert.
Keputusan tersebut diambil setelah Presiden Donald Trump berencana untuk menepati janjinya untuk "mengurus" Korea Utara.
Awal bulan ini, Tillerson menawarkan perundingan tanpa syarat dengan Pyongyang, namun segera mengurungkan niatnya dan kembali menyesuaikan dengan kebijakan Washington yang menunggu sanksi hingga berjalan dengan efektif, dan bersikeras bahwa perilaku baik sebelum dialog harus ditunjukkan.
Saat itu, Tillerson menekankan bahwa AS sedang mempertimbangkan "semua pilihan" untuk melindungi diri. Tillerson mengatakan, "Kami tidak ingin berperang dengan Korea Utara. AS akan mengupayakan segala tindakan yang diperlukan untuk melindungi diri dari agresi Korea Utara, namun kami masih berharap bahwa diplomasi akan menghasilkan sebuah resolusi."
Sepanjang tahun ini, Korea Utara telah menembakkan 15 rudal dan telah melakukan uji coba nuklir bawah tanah keenam pada September.
Nauert mengatakan bahwa Tillerson dan Lavrov juga membahas situasi di Suriah, dengan menyepakati pentingnya proses Jenewa dalam mencapai resolusi damai.
Ia menambahkan, Washington juga mengungkapkan kekhawatirannya atas meningkatnya kekerasan di Ukraina timur.