Astudestra Ajengrastrı
26 September 2018•Update: 26 September 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada empat pejabat senior Venezuela pada Selasa, termasuk ibu negara dan mantan Jaksa Agung Cilia Adela Flores de Maduro.
Juga di dalam daftar adalah Wakil Presiden Eksekutif Delcy Rodriguez Gomez, Menteri Informasi dan Komunikasi Jorge Jesus Rodriguez Gomez dan Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez.
Kementerian Luar Negeri juga memberikan sanksi kepada Jose Omar Paredes dan Edgar Alberto Sarria Diaz, yang oleh kementerian dikatakan sebagai bagian dari jaringan yang bertujuan mendukung Rafael Alfredo Sarria Diaz, yang disebut-sebut sebagai "tokoh kunci yang menjatuhkan sanksi kepada Presiden Venezuela dari Majelis Konstituen yang tidak sah, Diosdado Cabello Rondon."
Sanksi kepada Sarria Diaz dan Cabello Rondon dijatuhkan pada 18 Mei.
Amerika Serikat selanjutnya menjatuhkan sanksi kepada Panazeate SL, yang oleh kementerian disebut dimiliki oleh Sarria Diaz.
"Sanksi-sanksi AS ini tidak akan permanen; mereka dijatuhkan untuk mengubah perilaku," kata Kementerian Pertahanan.
Kementerian menambahkan Washington mempertimbangkan untuk mengangkat sanksi bila individu-individu terkait "melakukan tindakan kongkrit dan berarti untuk mengembalikan demokrasi, menolak berpartisipasi pada perlakuan yang melanggar HAM dan berbicara soal pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah, juga melawan korupsi di Venezuela."
Implikasi dari tindakan pada Selasa ini, properti yang dimiliki oleh individu-individu yang masuk daftar hitam di wilayah yuridiksi AS dibekukan dan warga AS dilarang melakukan bisnis dengan mereka.
Presiden AS Donald Trump menyambut baik penalti ekonomi ini dalam komentarnya di hadapan Sidang Majelis Umum PBB, di mana dia menyatakan untuk menargetkan "lingkaran dalam dan penasihat dekat" Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
"Kami meminta negara-negara bergabung dengan AS untuk mengembalikan demokrasi di Venezuela," kata dia.
Dia kemudian menolak mencoret tindakan militer terhadap Venezuela, berkata kepada wartawan di New York, "Saya tak suka bicara tentang militer."
"Kenapa saya harus berbicara dengan Anda soal militer?" tukas dia, mengatakan bahwa pendahulunya, Presiden Barack Obama "selalu mengatakan apa yang akan dia lakukan, lalu menghadapi kesulitan 10 kali lipat untuk menerapkannya. Saya tidak akan melakukannya."