Umar İdris
18 November 2019•Update: 18 November 2019
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Amerika Serikat (AS) menyatakan dukungannya kepada rakyat Iran dalam menggelar aksi protes damai terhadap pemerintah, pada Minggu.
"Kami mengutuk adanya pasukan khusus dan pembatasan komunikasi untuk menghadapi demonstran," kata sekretaris pers Gedung Putih Stephanie Grisham, dalam sebuah pernyataan.
"Teheran telah secara fanatik mengejar senjata nuklir dan program rudal, dan mendukung terorisme, mengubah negara yang membanggakan menjadi negara yang mendapatkan peringatan ketika kelas penguasa meninggalkan rakyatnya dan memulai 'perang salib' untuk kekuasaan dan kekayaan pribadi," tambahnya.
Demonstrasi pecah di Iran sejak Jumat setelah pemerintah memberlakukan penjatahan bensin dan menaikkan harga bahan bakar.
Satu orang tewas pada Sabtu dalam demonstrasi menentang keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bensin, menurut kantor berita semi-resmi Iran, ISNA.
Para pengunjuk rasa berusaha membakar sebuah depot bahan bakar di pusat kota Sirjan, tetapi dihalangi oleh pasukan keamanan, kata Gubernur Mohammad Mahmoudabadi.
Dia mengatakan pemerintah Iran masih berusaha untuk menyelidiki penyebab kematian pemrotes.
Mahmoudabadi mengatakan ketertiban telah dipulihkan di kota itu setelah intervensi pasukan keamanan. Dia meminta warga Iran lainnya untuk tidak bergabung dengan apa yang dia sebut sebagai protes "tanpa izin".
Kemudian pada hari Sabtu, demonstran memblokir jalan yang menuju dan dari ibukota Teheran.
Menurut sumber-sumber lokal, protes masih berlangsung di beberapa provinsi, termasuk Teheran, Fars dan Isfahan.
Televisi pemerintah Iran mengatakan para pengunjuk rasa di Shiraz membakar dua pompa bensin dan dua kendaraan polisi.
Mereka juga memblokir jalan-jalan utama dan merusak gedung-gedung publik di kota dan menghancurkan kamera keamanan, truk pemadam kebakaran, dan kendaraan.
Jaksa Agung Iran Mohammad Jafar Montazeri memperingatkan bahwa mereka yang berada di belakang protes akan menghadapi proses peradilan.
Iran telah terpukul keras oleh penerapan kembali sanksi AS tahun lalu setelah Presiden Donald Trump menarik negaranya dari perjanjian nuklir 2015 dengan Teheran.
*Ditulis oleh Gozde Bayar