Michael Gabriel Hernandez
28 April 2026•Update: 28 April 2026
Amerika Serikat menyebut terdapat “tanda-tanda positif” bahwa Hamas akan melakukan demiliterisasi, yang dinilai menjadi kunci utama keberhasilan rencana Presiden Donald Trump untuk Jalur Gaza.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin mengatakan Mesir dan Turkiye terlibat dalam proses tersebut dan ada perkembangan menuju kesepakatan.
“Saya tahu mitra kami di Mesir dan Turkiye terlibat dalam proses ini. Ada beberapa tanda positif selama akhir pekan bahwa kita semakin dekat dengan kesepakatan terkait demiliterisasi,” katanya dalam wawancara dengan Fox News.
“Namun itu harus terjadi. Seluruh rencana ini hanya bisa berjalan jika Hamas didemiliterisasi. Selama itu belum terjadi, semuanya masih dipertanyakan,” tambahnya.
Saat ditanya apakah Washington akan mendukung Israel melanjutkan perang di Gaza jika Hamas tidak melucuti senjata, Rubio mengatakan tidak ingin berspekulasi mengenai kemungkinan tersebut.
“Mari kita berharap itu bisa dihindari. Itu bukan hasil yang kita inginkan. Yang kita inginkan adalah Hamas didemiliterisasi dan pasukan keamanan Palestina yang didukung pasukan internasional dapat mengamankan Gaza,” ujarnya.
Sementara itu, juru bicara Hamas Hazem Qassem mengatakan tuntutan pelucutan senjata dan pengabaian kewajiban tahap pertama kesepakatan gencatan senjata Gaza bertentangan dengan rencana Trump dan justru mempersulit negosiasi tahap kedua.
Pernyataan Qassem disampaikan setelah pertemuan di Kairo yang melibatkan pejabat tinggi Hamas di Gaza Khalil al-Hayya, pejabat Mesir, perwakilan tinggi Gaza dalam Board of Peace Nikolay Mladenov, serta penasihat senior AS Aryeh Lightstone.
Qassem menegaskan pentingnya pelaksanaan kewajiban tahap pertama sebelum melanjutkan pembahasan tahap berikutnya.
Pada September lalu, Trump mengumumkan rencana untuk mengakhiri perang Israel di Gaza. Tahap pertama mencakup gencatan senjata, penarikan sebagian pasukan Israel, pembebasan sandera Israel yang tersisa, serta masuknya 600 truk bantuan.
Hamas menyatakan telah memenuhi kewajiban tahap pertama dengan membebaskan sandera, namun menuduh Israel tidak menjalankan kewajiban kemanusiaan dan tetap melanjutkan serangan yang menewaskan 786 warga Palestina dan melukai 2.217 lainnya.
Tahap kedua mencakup penarikan lebih luas pasukan Israel dari Gaza, rekonstruksi wilayah, serta dimulainya pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata.
Menanggapi ancaman Israel untuk kembali berperang, Qassem menyebutnya sebagai “alat tekanan” yang tidak akan berhasil, seraya menilai Israel belum benar-benar menghentikan perang di tengah serangan yang terus berlangsung, pendudukan wilayah, dan pembatasan bantuan.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich juga kembali menyerukan pendudukan penuh Gaza dan pembangunan permukiman di wilayah tersebut, menurut laporan Channel 14.