Diyar Güldoğan
14 Juli 2026•Update: 14 Juli 2026
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah merampungkan gelombang terbaru serangan terhadap Iran pada Senin malam dengan menyasar sejumlah fasilitas militer di sepanjang pesisir selatan negara itu.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut bertujuan semakin melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelayaran komersial.
Dalam pernyataannya, CENTCOM mengatakan gelombang serangan terbaru selesai dilaksanakan pada pukul 22.15 waktu setempat Amerika Serikat pada 13 Juli.
CENTCOM menyebut operasi yang berlangsung selama lima jam itu berhasil menghantam berbagai sasaran militer di Iran, termasuk di Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas.
Menurut CENTCOM, pasukan Amerika Serikat menggunakan amunisi berpemandu presisi untuk menyerang sistem pertahanan pesisir Iran, lokasi rudal dan drone, serta berbagai kemampuan militer maritim negara tersebut.
"Lebih dari 50.000 personel militer Amerika Serikat saat ini dikerahkan di seluruh kawasan Timur Tengah. Pasukan Amerika tetap siaga, memiliki kemampuan mematikan, dan siap menjalankan misi," demikian pernyataan CENTCOM.
Gelombang serangan tersebut diumumkan setelah sebelumnya CENTCOM menyatakan telah melancarkan malam ketiga berturut-turut operasi militer terhadap Iran atas perintah Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Trump pada Senin mengatakan pasukan Amerika Serikat sedang menghancurkan kemampuan militer Iran yang berkaitan dengan Selat Hormuz serta kembali memberlakukan blokade terhadap negara itu. Meski demikian, ia menegaskan peluang tercapainya kesepakatan diplomatik dengan Teheran masih terbuka di tengah meningkatnya konflik.
"Kami menyerang mereka malam ini dan menghancurkan seluruh kemampuan mereka yang berkaitan dengan Selat Hormuz," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Serangan difokuskan pada kemampuan militer maritim Iran
CENTCOM mengatakan operasi terbaru difokuskan pada sistem pertahanan pesisir, kemampuan rudal, drone, dan berbagai fasilitas militer maritim Iran sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat tetap berada dalam kondisi siaga penuh dengan puluhan ribu personel yang masih ditempatkan di kawasan Timur Tengah.