Devina Halim
11 Juni 2021•Update: 11 Juni 2021
JAKARTA
China dan ASEAN sepakat untuk mempercepat proses negosiasi kode perilaku atau code of conduct (CoC) di Laut China Selatan guna mencapai kesimpulan awal yang efektif dan sesuai dengan hukum internasional.
Hal itu diputuskan setelah pertemuan khusus menteri luar negeri ASEAN-China di Chongqing, China, pada 7 Juni 2021, yang digelar dalam rangka memperingati 30 tahun hubungan dialog keduanya.
Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro L. Locsin Jr dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertindak sebagai co-chair dari meeting tersebut.
“Berusaha untuk mempercepat dimulainya kembali negosiasi tekstual CoC secara virtual, dengan pemahaman bahwa pertemuan fisik akan tetap menjadi modalitas utama,” demikian bunyi pernyataan bersama co-chair yang diterima Anadolu Agency, Jumat.
Akan tetapi, sejauh ini, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengaku belum memiliki informasi kapan pembahasan CoC akan dilanjutkan kembali.
“Belum ada informasi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah, kepada Anadolu, Jumat.
Setelah pertemuan itu, ASEAN dan China sekaligus menekankan pentingnya mempertahankan situasi lingkungan yang kondusif untuk negosiasi CoC.
ASEAN dan China juga menegaskan kembali komitmen mereka untuk sepenuhnya menerapkan Deklarasi Perilaku Para Pihak di Laut China Selatan (DOC) tahun 2002.
Kedua pihak sepakat meningkatkan keamanan maritim, menjunjung tinggi kebebasan navigasi dan penerbangan di atas Laut China Selatan.
Kemudian, menahan diri dari tindakan yang dapat mengancam perdamaian, serta mengupayakan penyelesaian sengketa secara damai sesuai hukum internasional termasuk UNCLOS 1982.
Kerja sama terkait pandemi
Di samping itu, ASEAN dan China bertekad memperluas kerja sama vaksin serta mempercepat produksi dan distribusi vaksin yang terjangkau oleh semua pihak.
Negara-negara ASEAN dan China sekaligus sepakat mempromosikan pemulihan ekonomi dan sosial pasca-pandemi Covid-19 yang berkelanjutan.
“Termasuk melalui dukungan untuk Covid-19 ASEAN Response Fund and ASEAN Comprehensive Recovery Framework,” bunyi pernyataan tersebut.
Isu Laut China Selatan kerap menjadi topik panas antara negara-negara di Asia Tenggara dengan China.
Belum lama ini, situasi di Laut China Selatan sempat memanas setelah 16 pesawat Angkatan Udara China masuk ke wilayah udara zona maritim Malaysia.
Malaysia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap wilayah udara dan kedaulatan negaranya.
Namun, Kedutaan Besar China di Kuala Lumpur membantah pesawatnya melanggar teritorial Malaysia, dan menyebut belasan pesawat tersebut sedang latihan terbang.