Muhammad Abdullah Azzam
27 Oktober 2020•Update: 27 Oktober 2020
Jeyhun Aliyev
ANKARA
Setelah Azerbaijan menyetujui gencatan senjata kemanusiaan baru untuk menukar tahanan dan mayat, pasukan Armenia melanggar gencatan senjata hanya beberapa menit setelah kesepakatan itu diberlakukan, kata Presiden Azerbaijan, pada Senin.
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengungkapkan bahwa negara-negara yang mendesak gencatan senjata kemanusiaan sebenarnya telah mengirimkan senjata ke Armenia.
Aliyev juga menggarisbawahi Armenia melanggar gencatan senjata ketiga dalam waktu kurang dari sebulan.
"Mengapa ada pihak yang menginginkan gencatan senjata lalu mengirimkan senjata?" tanya Aliyev dalam sebuah pidato kebangsaan.
Menyinggung pihak-pihak yang mendukung Armenia, Aliyev mengatakan “Jika kalian ingin menyelamatkan Armenia, beri tahu mereka untuk meninggalkan tanah kami (Nagorno-Karabakh)."
Armenia tidak dapat berdiri tanpa dukungan ekonomi, keuangan dan politik dari negara lain, ujar dia.
Dia juga menggarisbawahi bahwa sejak konflik pada 27 September, tentara Azerbaijan telah menghancurkan 252 tank Armenia dan menyita 53 lainnya, serta menghancurkan enam sistem rudal anti-pesawat S-300.
"Dari mana senjata mahal seperti itu di negara yang ekonomi buruk begitu? Saya bertanya, dari mana uang mereka untuk ini?" tanya dia lagi.
Aliyev mengatakan Armenia "bersujud" di hadapan Azerbaijan agar mereka menggunakan gencatan senjata untuk "memobilisasi pasukannya di medan perang dan memposisikan senjata.
"Sayangnya, berbagai jenis senjata dalam jumlah besar telah dikirim ke Armenia selama sebulan terakhir. Kami memiliki semua daftarnya," sebut dia.
“Jangan berikan [mereka] senjata! dan masalah ini akan selesai. Di satu sisi, mereka menyerukan gencatan senjata, di sisi lain, senjata dikirim kepada mereka. Ini apa artinya? Kami tidak akan tinggal diam,” tutur dia.
Dia menekankan bahwa daerah Karabakh Atas adalah "tanah Azerbaijan", menambahkan bahwa warga Azerbaijan telah tinggal di sana selama berabad-abad, sedangkan orang-orang Armenia kemudian baru ditempatkan di wilayah itu.
Presiden Azerbaijan menuduh lobi Armenia menciptakan "persepsi yang salah" dengan menyebarkan informasi yang menyimpang tentang sejarah wilayah dan konflik tersebut.