BAKU, Azerbaijan
Azerbaijan melancarkan operasi pembalasan pada Rabu terhadap pasukan Armenia di Nagorno Karabakh setelah Armenia melepaskan tembakan dan membunuh seorang tentara Azerbaijan, menurut kementerian pertahanannya.
“Pada pagi 3 Agustus, anggota detasemen bersenjata ilegal Armenia di wilayah Azerbaijan, di dekat kontingen penjaga perdamaian Rusia, menjadi sasaran tembakan intensif dari posisi Angkatan Darat Azerbaijan yang ditempatkan di arah wilayah Lachin,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.
Langkah pembalasan itu dilakukan setelah seorang tentara Azerbaijan tewas "sebagai akibat dari aksi teroris dan sabotase yang dilakukan oleh pasukan ilegal Armenia pagi ini," lanjut pernyataan itu.
Kementerian Azerbaijan mengatakan pihaknya "mengambil langkah-langkah yang relevan" dan meluncurkan operasi balasan setelah pasukan Armenia mencoba merebut bukit Kirghgiz dan membangun posisi tempur baru.
"Sebagai hasil dari tindakan pembalasan 'Balas dendam' yang dilakukan oleh Unit Tentara Azerbaijan, puncak Girkhgiz, serta Saribaba di sepanjang punggung Karabakh di Kaukasus Kecil dan sejumlah ketinggian penting lainnya telah dikuasai," tambah mereka.
Sementara itu, Uni Eropa (UE) menuntut "penghentian segera" permusuhan antara pasukan Azerbaijan dan Armenia.
"Sangat penting untuk mengurangi ketegangan, sepenuhnya menghormati gencatan senjata dan kembali ke meja perundingan untuk mencari solusi yang dinegosiasikan," kata juru bicara kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell dalam sebuah pernyataan.
Hubungan antara bekas republik Soviet di Armenia dan Azerbaijan telah tegang sejak 1991 ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, juga dikenal sebagai Karabakh Atas, sebuah wilayah yang diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh wilayah yang berdekatan.
Bentrokan terbaru mereka terjadi pada September 2020, di mana Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan hampir 300 pemukiman dan desa yang diduduki oleh Armenia selama hampir tiga dekade.
Kesepakatan yang ditengahi Rusia mengakhiri konflik intens selama 44 hari pada November 2020.