31 Juli 2017•Update: 31 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Rakyat Indonesia terus mengirimkan bantuan sebagai bentuk solidarisme dan kepedulian terkait nasib rakyat Palestina. Salah satu bentuk bantuannya adalah pembuatan dapur umum di sekitar kompleks masjid Al-Aqsa oleh lembaga sosial Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Direktur Global Humanity Response ACT, Bambang Triyono, mengatakan, bantuan sudah dikirimk sejak Senin pekan lalu dan masih terus berlanjut hingga kini.
“Pembuatan dapur umum untuk menyuplai makanan dan dukungan logistik bagi rakyat Palestina yang tetap bertahan di sekitar kompleks Masjid al-Aqsa demi menuntut kebebasan beribadah di masjid tersebut,” jelas dia kepada Anadolu Agency, Senin.
Hingga saat ini total bantuan yang dikelola ACT dari rakyat Indonesia sebanyak Rp 1,3 miliar. Dana ini direalisasikan dalam bentuk makanan seperti nasi briyani, ayam goreng, daging, air mineral, dan jenis bahan makanan lainnya. Dapur umum di Palestina dioperasikan oleh mitra ACT yang berasal dari warga Palestina.
“Berdasarkan informasi dari mitra kita di sana, situasi masjid Al-Aqsa masih ditutup dan hanya orang tua yang diperbolehkan masuk ke sana. Sebagian besar warga Palestina masih bertahan dan menunggu secara bergantian untuk berdemonstrasi menuntut agar al-Aqsa dibuka seluruhnya,” terang dia.
Bambang mengatakan, proses pengiriman bantuan untuk dapur umum tidaklah mudah. Banyaknya titik pengecekan di sekitar lokasi Al-Aqsa menjadi kendala dengan banyaknya aparat kepolisian dan tentara yang berjaga.
Bahan makanan tersebut dibawa dengan gerobak dan dipikul sejauh 1 KM oleh mitra lokal untuk melewati pos pemeriksaan.
“Mereka diinterogasi dan sempat dihalangi. Sampai ke titik distribusi juga masih mendapat pengawasan ketat Israel. Tapi bantuan masih bisa terdistribusi dengan baik,” ungkap Bambang.
Saat ini, tim dari Indonesia masih berusaha berangkat ke Jerusalem. Tidak adanya hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel mempersulit keberangkatan tim. “Hingga kini bantuan dari rakyat Indonesia masih disalurkan melalui warga lokal Palestina,” tukas Bambang.