Maria Elisa Hospita
04 September 2018•Update: 05 September 2018
Walid Abdullah
TRIPOLI, Libya
Korban tewas akibat bentrokan antara milisi-milisi yang bertikai di pinggiran ibu kota Libya, Tripoli, telah mencapai 41 jiwa.
Pada 26 Agustus, pertikaian sengit antara dua kelompok bersenjata yang terafiliasi dengan pemerintah persatuan yang didukung PBB meletus di tenggara Tripoli.
Brigade Infanteri Ketujuh (berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan) menuding Brigade Revolusi Tripoli (berafiliasi dengan Kementerian Dalam Negeri) menyerang daerah-daerah di bawah kendalinya.
Menurut Departemen Kesehatan yang berbasis di Tripoli, sejak bentrokan terjadi pekan lalu, sedikitnya 41 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Fayez al-Sarraj, perdana menteri pemerintah persatuan yang berbasis di Tripoli, telah menginstruksikan Mohamed al-Zein, kepala badan kontraterorisme pemerintah, untuk mengawasi perundingan gencatan senjata antara kedua kelompok.
Libya telah dirundung gejolak sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO berhasil menggulingkan pemerintahan dan menewaskan Muammar Gaddafi, yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.
Sejak itu, perpecahan politik Libya memicu persaingan antara dua poros kekuasaan - satu di Tobruk dan satu lagi di Tripoli - dan sejumlah kelompok milisi bersenjata.