Riyaz ul Khaliq
09 Juli 2026•Update: 09 Juli 2026
China pada Kamis mendesak NATO untuk meninggalkan apa yang disebutnya sebagai "mentalitas Perang Dingin" dalam memandang Beijing.
"NATO adalah aliansi pertahanan regional dengan cakupan tugas dan batas geografis yang jelas. NATO harus berhenti mencari-cari kesalahan China," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, kepada wartawan di Beijing.
Mao menegaskan bahwa China merupakan "kekuatan bagi perdamaian dunia" dan tidak pernah mengancam negara mana pun maupun menjadi ancaman terhadap keamanan kawasan Euro-Atlantik.
"NATO harus meninggalkan pola pikir Perang Dingin yang sudah usang, memperbaiki cara pandangnya terhadap China, dan berhenti menggemborkan narasi yang disebut sebagai ancaman China," ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menggelar pertemuan bersama para pejabat tinggi dari empat mitra aliansi di kawasan Indo-Pasifik di sela-sela KTT NATO yang berlangsung di Ankara pekan ini.
Pertemuan NATO dengan kelompok Indo-Pacific Four (IP4) itu dihadiri Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Menteri Luar Negeri Cho Hyun, Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dan Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi, Menteri Industri Pertahanan Australia Pat Conroy, serta Menteri Pertahanan Selandia Baru Chris Penk.
Meski bukan anggota NATO, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, dan Jepang telah diundang sebagai tamu dalam KTT tahunan NATO sejak 2022.