Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 November 2018•Update: 05 November 2018
Islamuddin Sajid
ISLAMABAD, Pakistan
China dan Pakistan menandatangani 15 perjanjian dan nota kesepahaman (MoU) untuk kerja sama di berbagai bidang, termasuk pengentasan kemiskinan, pertanian dan transfer elektronik pada Sabtu, media lokal melaporkan.
Perjanjian itu ditandatangani dalam pembicaraan tingkat delegasi antara Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dan Perdana Menteri China Li Keqiang di Balai Agung Rakyat Beijing, menurut Radio yang dikelola pemerintah Pakistan.
Khan saat ini sedang dalam kunjungan resmi empat hari ke China.
Menurut Radio Pakistan, China juga akan membantu Pakistan untuk memodernisasi departemen metrologi di negara itu sementara kedua negara juga akan memperluas kerja sama di bidang perguruan tinggi.
Sebelumnya, Khan disambut hangat oleh mitranya dari China saat kedatangannya di Balai Agung Rakyat Beijing.
Selama pertemuan mereka, Li Keqiang menyatakan keinginannya untuk bekerja sama dengan pemerintah baru Pakistan untuk lebih memperkuat kemitraan strategis demi masa depan bersama, menurut pernyataan juru bicara perdana menteri Pakistan.
Kedua belah pihak menyatakan kepuasannya atas kemajuan proyek multi-miliar dolar China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) dan berharap proses pengembangan industri Pakistan akan dipercepat dengan peluncuran zona ekonomi khusus dan kawasan industri, kata pernyataan itu. .
Proyek senilai USD64 miliar (Rp957,1 triliun) yang merupakan bagian dari prakarsa ekonomi asing paling ambisius di Beijing - One Belt One Road - bertujuan untuk menghubungkan China barat laut ke pelabuhan Gwadar di Pakistan melalui jaringan jalan, jalur kereta api dan jalur pipa untuk mengangkut kargo, minyak dan gas .
Pemerintah China meyakinkan Khan bahwa China akan memberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan oleh Pakistan dalam mengatasi kesulitan ekonomi saat ini.
"China akan membantu Pakistan untuk keluar dalam krisis ekonomi saat ini, namun pihak berwenang yang terkait dari kedua pihak akan melakukan pembahasan mendalam untuk memperbaiki rinciannya," kata Kong Xuanyou, wakil menteri luar negeri China kepada wartawan setelah pertemuan kedua perdana menteri.
Bulan lalu, Arab Saudi telah menyuntikkan dana talangan senilai USD6 miliar (IDR89,7 triliun) untuk memberikan bantuan sementara bagi perekonomian Pakistan yang sedang lesu.
Paket itu - termasuk USD3 miliar untuk bantuan neraca pembayaran - diumumkan setelah pertemuan antara Raja Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan pada Konferensi Inisiatif Investasi Masa Depan di Riyadh.
Bergulat dengan defisit anggaran berjalan sebesar USD18 miliar (IDR269,2 triliun), Pakistan telah meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengatasi masalah pembayaran yang semakin memburuk.
Perwakilan IMF akan mengunjungi Islamabad pada 7 November untuk membahas persyaratan dan besar pinjaman.