Ekip
30 Maret 2022•Update: 30 Maret 2022
ISTANBUL
Pertemuan tatap muka antara delegasi Rusia dan Ukraina berakhir di Istanbul pada Selasa.
Putaran negosiasi baru berlangsung selama tiga jam, dan para negosiator Rusia dan Ukraina kemudian mengadakan konferensi pers terpisah untuk memberi tahu dunia tentang hasil perundingan mereka.
Sementara Ukraina telah meminta delapan negara, termasuk Turki, untuk menjadi penjamin dalam kesepakatan damai; Rusia mengumumkan akan secara signifikan mengurangi kegiatan militer di kota Kyiv dan Chernihiv di Ukraina untuk meningkatkan kepercayaan untuk negosiasi selanjutnya.
Rusia mengirim pasukan ke Ukraina dalam apa yang disebutnya "operasi militer khusus" pada 24 Februari. Perang Rusia di Ukraina menimbulkan kemarahan internasional dan negara-negara Barat telah menerapkan sanksi keuangan yang keras terhadap Moskow.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan "pertemuan hari ini adalah kemajuan paling berarti sejak dimulainya negosiasi."
Dia menambahkan bahwa "prioritas utama adalah untuk mencapai gencatan senjata sesegera mungkin dan membuka jalan bagi solusi politik permanen."
Sebelumnya, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengulangi seruannya untuk gencatan senjata, dengan mengatakan, “Kami percaya bahwa tidak akan rugi pihak yang mencapai perdamaian yang adil, dan konflik yang berkepanjangan tidak menguntungkan siapa pun.”
Turkiye telah mendapat pujian secara luas atas upayanya untuk mengakhiri perang, dibantu oleh posisinya yang unik dalam menjalin hubungan persahabatan dengan Rusia dan Ukraina.
Pada 10 Maret, negara itu menjadi tuan rumah bagi para menteri luar negeri Rusia dan Ukraina di kota Antalya, pertemuan tingkat tertinggi kedua belah pihak sejak perang dimulai.