Surya Fachrizal Aprianus
31 Agustus 2019•Update: 02 September 2019
Zehra Nur Duz dan Dilara Hamit
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akan bertemu Presiden AS Donald Trump di sidang Majelis Umum PBB pada akhir September.
Erdogan mengatakan ia akan membahas isu-isu seputar kota Manbij di Suriah barat laut, di mana Turki dan AS bekerja sama terkait penarikan teroris YPG / PKK dari wilayah tersebut.
Erdogan juga menegaskan bahwa Turki akan mengambil langkah sendiri sendiri jika Washington tetap menunda status Turki dalam proyek kepemilikan jet tempur F-35.
Pihak AS menyatakan status Turki dalam program jet tempur F-35 ditunda, karena Ankara membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia.
Tetapi Turki masih memiliki harapan memiliki F-35 dan S-400 secara bersamaan, jika Turki bersedia tidak mengaktifkan S-400 yang telah diterimanya dari Rusia.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyuarakan ketidaksetujuan dia untuk menghukum Turki atas pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia, ketika AS mengumumkan penghapusan Ankara dari program tersebut pada Juli.
Pemerintahan Trump menyatakan bahwa sistem S-400 dapat membocorkan teknologi F-35 untuk kepentingan Rusia. Pihak AS juga menilai S-400 tidak kompatibel dengan sistem NATO.
Tetapi Turki mengatakan S-400 tidak akan diintegrasikan ke dalam sistem NATO dan tidak akan menimbulkan ancaman bagi aliansi.
Mengenai zona aman di Suriah utara, Erdogan mengatakan, AS dan Turki berusaha untuk mempersempit zona aman 20 mil lebih lanjut, meskipun kesepakatan sementara tetap berlaku.
Pejabat militer Turki dan A.S. mencapai kesepakatan pada 7 Agustus bahwa zona aman di Suriah utara akan berfungsi sebagai "koridor perdamaian" bagi warga Suriah yang ingin kembali dan sebagai Pusat Operasi Bersama AS-Turki akan dibentuk di Turki.
Pemboman idlib
Pada kesempatan itu, Erdogan mengatakan dia telah menyampaikan keberatannya terhadap serangan yang dilakukan rezim Assad terhadap pos-pos pengamatan Turki di Idlib, utara Suriah, kepada Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini.
Pada 22 Agustus, rezim Suriah Basyar al-Assad menyerang pos pengamatan militer Turki di Suriah barat laut.
Turki dan Rusia sepakat pada September lalu untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Dalam kesepakatan itu, kelompok-kelompok oposisi di Idlib akan tetap di daerah-daerah semula. Sementara Rusia dan Turki akan melakukan patroli bersama di daerah itu untuk mencegah munculnya kembali pertempuran.
Namun, rezim Suriah dan sekutu-sekutunya secara konsisten melanggar ketentuan-ketentuan gencatan senjata, dengan sering melancarkan serangan di dalam zona de-eskalasi.
Zona de-eskalasi saat ini adalah rumah bagi sekitar 4 juta warga sipil. Suriah terkunci dalam perang saudara sejak awal 2011, ketika rezim Assad menggunakan kekerasan yang berlebihan terhadap aksi-aksi protes pro-demokrasi.
Sejak itu, ratusan ribu orang telah terbunuh dan lebih dari 10 juta lainnya mengungsi, menurut pejabat PBB.