Muhammad Abdullah Azzam
02 Juni 2020•Update: 02 Juni 2020
Jeyhun Aliyev, Burak Dag
ANKARA
Dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei, Presiden Turki mengkritik industri rokok yang telah menjerat jutaan anak muda dalam kecanduan.
"Industri tembakau telah mengisi kantong mereka sendiri selama beberapa dekade, merampas kebebasan jutaan anak muda, memenjarakan mereka dengan kecanduan," kata Presiden Recep Tayyip Erdogan kepada pemuda Turki melalui konferensi video pada sebuah acara anti-merokok di Istanbul.
Erdogan mengatakan penutupan sementara tempat merokok dan tempat hiburan untuk mengekang penyebaran Covid-19, dan akan ditutup "untuk waktu yang lebih lama."
"Bagi kami, kesehatan manusia lebih penting dari semua masalah lainnya. Di masa mendatang, kami akan melanjutkan kepekaan dan tekad kami dalam masalah ini," tambah Presiden Turki itu.
Erdogan juga mencatat bahwa pemerintahnya telah menjadi sasaran tuduhan industri tembakau karena kebijakan yang memperjuangkan perlawanan terhadap rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang selama 18 tahun terakhir.
"Tuntutan ini tidak dapat diterima. Mereka seolah-olah dapat menipu kita, mereka mendatangi kita, mengatakan 'rokok elektronik tidak membahayakan.' Saya tidak menerima mereka bahkan jika mereka tidak berbahaya sama sekali," ungkap Erdogan.
Turki pada Februari melarang impor e-rokok dan produk-produk terkait sebagai bagian dari perjuangannya melawan rokok.
Menegaskan bahwa industri tembakau mencoba dengan berbagai cara untuk menemukan pelanggan baru bagi "racun" yang mereka hasilkan, Erdogan menuding industri itu adalah propaganda dan manipulasi.
Dia juga menegaskan bahwa pemerintahnya telah mengenakan pajak tertinggi pada rokok guna membantu para pecandu untuk berhenti.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada 1987 untuk menarik perhatian dunia terhadap dampak merusak dari penggunaan tembakau yang meluas.