Dandy Koswaraputra
01 Februari 2019•Update: 01 Februari 2019
Umar Farooq
WASHINGTON
Facebook mengatakan, Kamis, pihaknya telah menghapus 783 akun yang merupakan bagian dari kampanye "perilaku terkoordinasi dan tidak autentik" yang terkait dengan Iran.
"Administrator Halaman dan pemilik akun biasanya mewakili diri mereka sebagai penduduk setempat, sering menggunakan akun palsu, dan memposting berita tentang peristiwa terkini," Nathaniel Gleicher, kepala kebijakan keamanan siber di Facebook, mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Pengumuman itu muncul ketika perusahaan membangun investigasi sebelumnya ke akun palsu yang berasal dari Iran yang telah menyebarkan konten di jejaring sosialnya.
Mayoritas kegiatan dipusatkan di Timur Tengah dan Asia Selatan, selain negara-negara lain seperti Albania dan Afrika Selatan. Namun akun tersebut juga menargetkan AS.
Hampir secara bersamaan, Twitter menerbitkan laporan Pemilu Tengah 2018, yang menyatakan bahwa perusahaan media sosial telah menangguhkan jaringan akun yang berbeda yang terlibat dalam kampanye disinformasi di seluruh dunia.
Twitter mengatakan telah mengkonfirmasi bahwa akun yang diidentifikasi sebagai Rusia sebenarnya dari sana, tetapi tidak dapat menghubungkannya dengan Badan Riset Internet Rusia, yang dituduh berperan dalam campur tangan dalam pemilihan presiden AS 2016.
Sekitar 2 juta tweet terkait pemilu datang dari akun "jahat" Rusia ini tahun lalu, katanya.
Twitter menambahkan bahwa mereka juga menghapus akun yang terhubung dengan Iran dan Venezuela.
"Sebagai bagian dari tinjauan berkelanjutan kami, kami menemukan operasi terbatas yang memiliki potensi untuk dihubungkan ke sumber-sumber di Iran, Venezuela dan Rusia," katanya dalam sebuah pernyataan.