Rhany Chairunissa Rufinaldo
18 Desember 2018•Update: 18 Desember 2018
Zeynep Tufekci dan Hamdi Yildiz
HUDAYDAH/MARIB, Yaman
Gencatan senjata yang disponsori PBB mulai berlaku Selasa tengah malam di kota pelabuhan Laut Merah, Al Hudaydah dan sekitarnya di Yaman.
Gencatan senjata antara pasukan pro-pemerintah dan pemberontak Houthi kembali terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai pekan lalu di Stockholm, Swedia selama perundingan damai yang disponsori PBB antara pihak-pihak yang berseteru di Yaman.
Menteri Luar Negeri Yaman Khalid al-Yamani menegaskan niat pemerintah untuk mematuhi gencatan senjata di Hudaydah, Salif dan Ras Issa dalam sebuah pernyataan di Twitter.
Juru bicara Houthi, Mohammed Abdul-Salam juga menggarisbawahi komitmen kelompok pemberontak terhadap kesepakatan itu.
Dia mengatakan gencatan senjata ini akan diikuti dengan penghentian operasi militer di Hudaydah serta penghentian pertempuran di Taiz, wilayah barat daya negara itu.
Pertempuran antara kedua belah pihak pecah pada hari sebelumnya di Hudaydah, titik masuk utama untuk bantuan kemanusiaan.
PBB diperkirakan akan memimpin misi bantuan melalui pelabuhan itu untuk mencapai penduduk yang dilanda perang di seluruh negeri dan meningkatkan kondisi kehidupan mereka.
Yaman terjerumus ke dalam perang saudara pada 2014, ketika pemberontak Syiah Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota Sana'a, yang memaksa pemerintah untuk melarikan diri ke Arab Saudi.
Setahun kemudian, Arab Saudi dan sejumlah sekutu Arab lainnya meluncurkan kampanye udara besar-besaran yang bertujuan untuk menggulingkan kejayaan militer Houthi.