Muhammad Abdullah Azzam
28 Maret 2019•Update: 29 Maret 2019
Moustafa Maged Haboosh, Zeynep Hilal Karyağdı
GAZA
Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh mengecam keputusan pengakuan Amerika Serikat (AS) atas kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan, dia juga mengungkapkan keputusan tersebut tak dapat diterima oleh umat Islam.
Melalui sebuah pernyataan tertulis, Haniyeh menekankan Hamas menentang keputusan dzalim oleh AS terkait Dataran Tinggi Golan yang diduduki.
"Keputusan AS itu tak dapat diterima oleh orang Arab dan Muslim," ujar Haniyeh.
Di sisi lain, menanggapi serangan Israel ke Gaza, Haniyeh mengatakan bahwa pihaknya akan membangun kembali markas besar Hamas yang menjadi target dan telah dihancurkan oleh pesawat tempur Israel di Gaza Senin lalu.
Keputusan Donald Trump yang mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan terus menuai reaksi kecaman besar dari masyarakat dunia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa (UE), Turki, Inggris, Rusia, Kanada, Liga Arab, bersama banyak negara lain dan lembaga internasional mengumumkan tak mengakui keputusan pemerintah AS soal Golan secara sepihak itu.
Israel sejak lama melobi AS untuk mengakui klaimnya atas Dataran Tinggi Golan, tetapi semua pemerintahan sebelumnya mengabaikan permintaan itu.
Israel merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah selama Perang Enam Hari 1967.
Israel menduduki sekitar dua pertiga wilayah Dataran Tinggi Golan dan secara resmi mencaplok wilayah itu pada 1981, yang kemudian ditolak dengan suara bulat oleh Dewan Keamanan PBB.
PBB mengatakan status Dataran Tinggi Golan tetap tidak berubah setelah deklarasi Trump dan berdasarkan hukum internasional diklasifikasikan sebagai wilayah pendudukan.