Rhany Chairunissa Rufinaldo
26 Februari 2019•Update: 27 Februari 2019
Ovunc Kutlu
ANKARA
Harga minyak mentah turun pada awal perdagangan Selasa setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyoroti harga minyak yang tinggi dan mengkritik Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Minyak mentah Brent yang dipakai sebagai harga acuan internasional diperdagangkan pada USD64,93 per barel pada Senin, turun 3,3 persen, sementara pada Selasa kembali turun 0,1 persen yang ditutup pada harga USD64,86 per barel pada 0610 GMT.
Sementara itu, minyak mentah berjangka Amerika West Texas Intermediate (WTI) juga turun 3,3 persen, diperdagangkan pada USD55,45 per barel dan 0,3 persen kembali turun 0,3 persen pada Selasa mencapai USD55,28.
"Harga minyak terlalu tinggi. OPEC, silakan bersantai dan santai saja. Dunia tidak bisa menerima kenaikan harga - rapuh!" cuit Trump di Twitter.
Baik Brent maupun WTI berada pada level tertinggi pada Jumat sejak 16 November 2018, setelah OPEC dan sekutunya sepakat pada 7 Desember untuk menurunkan total produksi minyak mereka sebesar 1,2 juta barel per hari selama enam bulan pertama 2019.
Selain itu, sanksi Washington terhadap perusahaan energi milik Venezuela, PDVSA, pada 29 Januari dan penerapan kembali sanksi terhadap ekspor minyak mentah Iran pada 5 November telah mengintensifkan kekhawatiran pasokan di pasar minyak global dan mendorong harga menjadi lebih tinggi.
Sementara prospek ekonomi global untuk 2019 terlihat lemah dan diharapkan memiliki dampak negatif pada permintaan minyak global, para pemain pasar minyak berharap kebuntuan perdagangan antara AS dan China dapat diselesaikan pada bulan-bulan berikutnya untuk mendukung harga minyak.
"Kesepakatan Perdagangan China (dan banyak lagi) dalam tahap lanjut. Hubungan antara kedua Negara kami sangat kuat. Karena itu saya telah sepakat untuk menunda kenaikan tarif AS," tulis Trump di Twitter sebelum dia mengatakan akan menunda kenaikan tarif impor China yang sebelumnya dijadwalkan pada 1 Maret.
Trump mengatakan dia berencana untuk mengadakan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping jika dua ekonomi terbesar dunia itu membuat kemajuan tambahan dalam negosiasi perdagangan.