22 Juli 2017•Update: 23 Juli 2017
Barry Eitel
SAN FRANCISCO
Hawaii meluncurkan kampanye pendidikan Jumat untuk melatih warganya apa yang harus dilakukan bila wilayah mereka diserang oleh rudal Korea Utara.
Ketegangan antara negara otokratik yang tertutup itu dan Amerika Serikat (AS) terus meningkat selama enam bulan pertama masa jabatan Presiden Donald Trump. Awal bulan ini, Korea Utara berhasil menguji coba rudal balistik antarbenua untuk pertama kalinya. Meski negara tersebut menyatakan memiliki rudal yang bisa membawa nuklir, AS tidak percaya klaim tersebut.
Namun demikian, salah satu rudal Korea Utara bisa mencapai Hawaii dalam waktu 12-20 menit, menurut informasi dari Hawaii Emergency Management Agency.
Walaupun mereka yakin risiko serangan itu sangat rendah, pihaknya bersiap-siap untuk keadaan darurat semacam itu.
Beberapa taktik yang digunakan mirip masa Perang Dingin, yang berakhir lebih dari seperempat abad yang lalu, termasuk pengumuman layanan masyarakat, latihan di sekolah-sekolah dan sirene serangan.
"Kami tidak ingin menimbulkan tekanan yang tidak wajar bagi warga; namun, kami memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan rencana untuk semua ancaman,” kata Vern Miyagi dari Hawaii Emergency Management Agency.
“Kami tidak tahu persis kemampuan atau niat pemerintah Korut, namun ada bukti nyata mereka mencoba mengembangkan rudal balistik yang pada suatu saat bisa mencapai negara kita. Oleh karena itu, kami tidak bisa menunggu untuk memulai kampanye informasi publik guna memastikan penduduk Hawaii tahu apa yang harus dilakukan bila kejadian semacam itu terjadi. "
Latihan evakuasi sekolah serupa dengan yang digunakan untuk situasi penembakan, sementara pengumuman layanan masyarakat akan memberitahu penduduk Hawaii untuk "masuk ke dalam, tetap di dalam dan menunggu" bila terjadi serangan.
Hawaii tidak memiliki rudal pencegat, jadi tidak akan banyak perlindungan bila Korut melancarkan serangan mendadak.
California dan Alaska memiliki 44 rudal pencegat dari Pentagon.
Rudal-rudal tersebut, yang baru-baru ini diuji oleh Korea Utara, memiliki jarak tempuh sekitar 6.700 kilometer, menempatkan wilayah Alaska dan A.S. di Guam dalam jangkauan Pyongyang sementara Hawaii dan Pantai Barat berada di luar jangkauan tersebut.