Muhammad Nazarudin Latief
28 Februari 2021•Update: 28 Februari 2021
Muhammad Al-Samei dan Aziz Al-Ahmadi
SANAA, Yaman
Pemberontak Houthi di Yaman pada Minggu mengklaim telah melakukan serangan rudal dan drone di "situs sensitif" Arab Saudi.
Juru bicara pemberontak Yahya Saree menggambarkan hal itu sebagai "serangan besar-besaran", mengatakan bahwa enam pesawat tak berawak menargetkan situs militer di Abha dan Khamis Mushait di Arab Saudi selatan.
Dia mengatakan bahwa rudal balistik dan beberapa drone juga ditembakkan ke "situs sensitif" di ibu kota Saudi, Riyadh.
"Operasi akan terus berlanjut dan akan semakin meluas selama agresi dan pengepungan di negara kami terus berlanjut," kata kelompok itu.
Tidak ada komentar dari koalisi pimpinan Saudi tentang klaim Houthi.
Pada Sabtu, koalisi mengatakan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan oleh Houthi menuju Riyadh bersama enam drone yang diluncurkan ke wilayah selatan kerajaan.
Saluran Saudi Al-Ikhbariya juga melaporkan bahwa pesawat tak berawak pemberontak dilaporkan oleh koalisi pada Minggu, tetapi tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Kantor Berita SPA juga mengatakan pecahan peluru jatuh di beberapa daerah pemukiman di negara kaya minyak itu menyusul intersepsi rudal balistik Houthi yang menyebabkan korban manusia dan material.
Awal bulan ini, kelompok pemberontak menawarkan untuk menghentikan serangan terhadap Arab Saudi dengan syarat koalisi menghentikan serangan udara.
Pada 11 Februari, Arab Saudi melaporkan pada Dewan Keamanan PBB bahwa mereka akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan wilayahnya dan melindungi warganya dari serangan Houthi.
Yaman dilanda kekerasan dan ketidakstabilan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota Sanaa.
Koalisi pimpinan Saudi yang ingin memulihkan pemerintah Yaman malah memperburuk situasi, menyebabkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Sebanyak 233.000 orang tewas, hampir 80 persen atau sekitar 30 juta membutuhkan bantuan dan perlindungan kemanusiaan, dan lebih dari 13 juta dalam bahaya mati kelaparan, menurut perkiraan PBB.