Muhammad Abdullah Azzam
05 September 2019•Update: 06 September 2019
Emre Karaca
BEIJING
Perusahaan teknologi asal China Huawei menuding Amerika Serikat (AS) merusak sistem data mereka dan memperoleh informasi tentang karyawan mereka secara paksa.
Dalam sebuah pernyataan, Huawei mengkalaim pihak AS melakukan serangan siber untuk menyusupi jaringan dan sistem informasi internal perusahaannya.
Pernyataan Huawei itu menyebut pemerintah Washington berprilaku mengabaikan nilai-nilai moral dengan mengganggu bisnis perusahaan China.
AS menuding tanpa menunjukkan bukti bahwa Huawei melakukan kegiatan mata-mata untuk China, ungkap perusahaan China itu.
Biro Investigasi Federal AS (FBI) melakukan penekanan terhadap karyawan Huawei untuk mendapatkan informasi tentang perusahaan itu, ujar pernyataan Huawei.
Pemerintah China menuduh pemerintah Washington membuat kebijakan yang merugikan perusahaan-perusahaan China dengan dalih keamanan nasional.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang menyerukan kepada pemerintah Washington untuk menghentikan fitnah yang disengaja terhadap perusahaan-perusahaan China karena tindakan AS tersebut tidak etis.
Pemerintah AS memutuskan untuk memberikan sanksi kepada Huawei dengan alasan China menggunakan infrastruktur jaringan seluler 5G-nya untuk kegiatan intelijen di dunia maya.
Otoritas AS membatasi penjualan produk dan layanan perusahaan tersebut pada Mei lalu.
Pada akhir Agustus, Google mengumumkan bahwa model baru Huawei tidak dapat menampilkan aplikasi Google.
Pemerintah Washington berusaha membujuk sekutunya di Eropa untuk mengambil langkah-langkah serupa untuk menjatuhkan sanksi kepada Huawei, seperti Kanada, Australia dan Selandia Baru.