Rhany Chairunissa Rufinaldo
08 Februari 2019•Update: 08 Februari 2019
Md. Kamruzzaman
DHAKA, Bangladesh
India meyakinkan Bangladesh atas dukungannya untuk pemulangan awal pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari tindakan keras oleh militer Myanmar dan sekarang tinggal di kamp-kamp di distrik Cox's Bazar, Bangladesh.
Perdana Menteri India Narendra Modi dan mantan Perdana Menteri Manmohan Singh memberi jaminan ketika mengunjungi Menteri Luar Negeri Bangladesh AK Abdul Momen di New Delhi pada Kamis, menurut sebuah siaran pers yang dikeluarkan oleh Komisi Tinggi Bangladesh di New Delhi .
Baru-baru ini, ketegangan antara kedua negara meningkat karena sedikitnya 1.300 Muslim Rohingya dilaporkan telah menyeberang ke Bangladesh dari India sejak awal tahun karena takut akan deportasi paksa ke Myanmar.
Sekitar 40.000 Rohingya diyakini telah berlindung di India selama bertahun-tahun, menurut laporan media.
Pada Januari, Bangladesh berhasil menggagalkan upaya pengungsi Rohingya untuk memasuki negara itu setelah terdampar di tanah tak bertuan yang berada di antara perbatasan kedua negara selama empat hari.
Momen bertemu dengan Modi dan meminta dukungan India untuk repatriasi awal Rohingya ke tempat kelahiran mereka di Negara Bagian Rakhine Myanmar.
Modi menegaskan bahwa India akan selalu bersama Bangladesh dan meyakinkannya soal kerja sama.
Namun, para pengungsi Rohingya serta lembaga-lembaga hak asasi manusia menuntut jaminan keselamatan dan hak warga negara sebelum pemulangan.
Singh juga mencatat bahwa pemulangan awal Rohingya adalah prioritas dan meyakinkan bahwa mereka akan mendukung pemerintah India menuju tujuan ini.
Kelompok teraniaya
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.