İqbal Musyaffa
14 November 2018•Update: 15 November 2018
Iqbal Musyaffa
SINGAPURA
Indonesia meyakini pembahasan awal mengenai Code of Conduct (CoC) mengenai Laut China Selatan dapat selesai pada 2019.
Hal ini seiring dengan harapan dari Perdana Menteri China Li Keqiang yang berharap seluruh dokumen penyelesaian sengketa di wilayah laut itu dapat selesai dalam tiga tahun ke depan.
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dalam sela-sela KTT ASEAN ke 33 di Singapura, Rabu, mengatakan negara-negara ASEAN dan China saat ini sedang dalam tahap ‘first reading’ naskah dari CoC yang sudah berhasil diformulasikan menjadi satu dokumen tunggal.
Tahapan first reading ini seperti yang sudah disampaikan pada Agustus lalu oleh Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakhrishnan dalam pertemuan tingkat menteri ASEAN-China di Singapura, Agustus lalu.
“Dengan sudah diformulasikan menjadi dokumen tunggal, maka akan mempermudah proses negosiasi,” ungkap Menteri Retno.
Negara-negara yang terlibat dalam pembahasan ini menurut dia, telah mencapai progress yang signifikan dengan telah terformulasikannya draft dari masing-masing negara menjadi dokumen tunggal.
Meski begitu, rincian dari draft dokumen tersebut masih akan difinalisasi dalam diskusi-diskusi yang akan berlangsung selanjutnya.
Pandangan yang sama
Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Jose Tavares mengatakan Indonesia sangat optimis diskusi awal tentang CoC Laut China Selatan bisa diselesaikan pada pertengahan tahun depan karena negara-negara yang terlibat sudah memiliki pandangan yang sama.
“Negara-negara tersebut masih membutuhkan sinkronisasi tentang satu dan lain hal. Tapi dengan sudah adanya dokumen tunggal, negosiasi akan berlangsung lebih lancar,” ungkap Jose.
Negara-negara ASEAN dan China sudah bertahun-tahun membahas kode etik untuk mengatur sengketa di Laut China Selatan, namun proses berjalan sangat lamban.
Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan dengan selesainya dokumen CoC yang dia harapkan selesai dalam tiga tahun ke depan, akan berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas jangka panjang di laut tersebut.
“Kita tidak ada niat untuk melakukan hegemoni ataupun ekspansi. Itu adalah hal yang tidak akan kita lakukan,” tegas Li.
PM Li menambahkan bahwa China hanya mengharapkan hubungan yang harmonis dengan para negara tetangganya.