20 September 2017•Update: 21 September 2017
LONDON
Inggris memutuskan untuk menghentikan semua bantuan bidang militernya untuk Myanmar sampai negara itu menghentikan kekerasan terhadap Muslim Rohingya, demikian yang dikatakan Perdana Menteri Inggris Theresa May, Selasa.
"Kami sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada orang-orang Rohingya di Burma [Myanmar]. Tindakan militer terhadap mereka harus dihentikan," kata May kepada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. “[Pemimpin de facto Myanmar] Aung San Suu Kyi dan pemerintah Burma perlu memperjelas bahwa tindakan militer harus dihentikan.”
"Pemerintah Inggris mengumumkan hari ini bahwa kita akan menghentikan semua keterlibatan dan pelatihan pertahanan militer Myanmar oleh Kementerian Pertahanan sampai masalah ini teratasi," tambahnya.
Tahun lalu, Inggris menghabiskan sekitar £ 305,000 (sekitar $ 412.000) sebagai bagian dari program pelatihan yang diberikan kepada militer Myanmar mengenai demokrasi, kepemimpinan dan bahasa Inggris. Program yang ditawarkan oleh Kementerian Pertahanan tidak termasuk pelatihan tempur.
Sejak 25 Agustus lebih dari 420.000 Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine di Bangladesh, menurut PBB.
Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi keamanan dimana pasukan keamanan dan massa beragama Budha membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya.
Menurut pihak Bangladesh, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan brutal tersebut.
Dilaporkan oleh Tayfun Salci; ditulis oleh Handan Kazanc