Rhany Chairunissa Rufinaldo
12 Maret 2020•Update: 12 Maret 2020
Karim El-Bar
LONDON
Regulator periklanan Inggris pada Rabu melarang sebuah iklan surat kabar karena diduga mengaitkan virus korona (Covid-19) dengan imigran.
Produsen tempat tidur yang berpusat di London Utara, Vic Smith Beds, memasang iklan di sebuah surat kabar lokal pada 12 Februari.
Iklan itu menampilkan kasur yang berdiri tegak dan dilukis gambar Union Jack serta mengenakan masker wajah berwarna hijau.
Di bawah gambar tersebut, tertulis slogan: "Tempat Tidur Buatan Inggris Dengan Bangga Dibuat di Inggris. Tidak Ada Impor Menjijikan."
Dua orang melaporkan iklan tersebut ke Otoritas Standar Periklanan (ASA), dengan alasan dapat menyebabkan penghinaan serius dan meluas.
Vic Smith Beds mengatakan pihaknya tidak berniat bersikap rasis, dan bersikeras bahwa iklannya tidak melambangkan rasisme.
Perusahaan itu mengatakan mereka telah menayangkan iklan ke karyawan-karyawan multikulturalnya dan tidak ada yang menganggap itu sebagai masalah.
Vic Smith Beds mengatakan bahwa basis pelanggan mereka adalah multi-etnis sehingga tidak masuk akal jika mereka sengaja menyinggung.
Perusahaan itu mengatakan ingin menyoroti bahwa tempat tidur mereka dibuat di Inggris dan tidak dikirim dengan kontainer lembab dari China.
"Gambar topeng itu dimaksudkan untuk merujuk pada spora dan bau jamur yang dapat berkembang dalam kondisi tersebut," tambah mereka.
ASA mengatakan dalam putusannya bahwa Iklan itu terlihat dalam konteks liputan berita yang meluas tentang wabah besar yang berkembang akibat virus korona.
Regulator iklan tersebut mengatakan banyak media juga melaporkan sejumlah kelompok menjadi sasaran fisik dan verbal karena kebangsaan dan/atau ras mereka sehubungan dengan kekhawatiran tentang virus korona dan sejumlah orang Asia melaporkan mereka menerima pelecehan sebagai akibat dari penggunaan masker wajah.
"Kami menganggap bahwa dalam kombinasi dengan gambar, referensi untuk impor jahat cenderung dibaca sebagai referensi negatif untuk imigrasi atau ras, dan khususnya mengasosiasikan imigran dengan penyakit," kata otoritas periklanan Inggris itu.
"Karena itu, kami menyimpulkan bahwa iklan itu cenderung menyebabkan pelanggaran serius dan meluas," tambah ASA, yang memutuskan bahwa iklan tersebut tidak boleh dipublikasikan lagi.