02 Juli 2026•Update: 02 Juli 2026
Militer Iran menegaskan akan memberikan respons tegas terhadap setiap campur tangan Amerika Serikat dalam urusan keamanan di Selat Hormuz maupun tindakan apa pun yang dinilai mengganggu ketertiban di jalur pelayaran strategis tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, satuan yang memimpin operasi militer Iran, dalam pernyataan yang dikutip Kantor Berita Fars, menyusul pertemuan keamanan regional yang digelar Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) di Manama, Bahrain, bersama pejabat militer senior dari 11 negara di kawasan.
Dalam pernyataan tersebut, Iran menegaskan Selat Hormuz berada dalam wilayah kedaulatannya dan keamanan serta stabilitas jalur pelayaran strategis itu merupakan "garis merah" bagi Angkatan Bersenjata Iran.
Iran menyatakan setiap campur tangan Amerika Serikat dalam urusan keamanan Selat Hormuz atau tindakan yang dianggap mengganggu ketertiban akan dipandang sebagai ancaman terhadap kedaulatan nasional dan akan dibalas secara tegas.
Pernyataan itu juga menyebut keberadaan pesawat tempur berawak maupun nirawak milik Amerika Serikat di atas Selat Hormuz berpotensi membahayakan keamanan kawasan.
Selain itu, Iran menegaskan seluruh kapal tanker minyak dan kapal dagang wajib menggunakan rute pelayaran yang telah ditetapkan oleh Teheran untuk melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Menurut Iran, setiap pelanggaran terhadap jalur pelayaran atau protokol navigasi akan segera direspons oleh angkatan bersenjata, yang dapat membahayakan keselamatan kapal yang melanggar.
"Iran tidak akan mengabaikan langkah apa pun yang dianggap perlu untuk melindungi hak-hak kedaulatannya di Selat Hormuz dan menghadapi setiap pelanggaran atau agresi yang dilakukan militer Amerika Serikat maupun pihak-pihak yang mendukungnya," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Sehari sebelumnya, CENTCOM mengumumkan telah menggelar pertemuan keamanan regional yang dipimpin Pasukan Pertahanan Bahrain dan dihadiri pejabat militer senior dari Mesir, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yaman.
Pertemuan tersebut membahas situasi keamanan kawasan, peningkatan kerja sama pertahanan, serta upaya menjaga keamanan pelayaran kapal dagang di Selat Hormuz.