Maria Elisa Hospita
24 Agustus 2018•Update: 25 Agustus 2018
ANKARA
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran meminta Amerika Serikat untuk bergabung kembali dalam Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) atau perjanjian nuklir.
Dalam siaran televisi pemerintah Iran, Bahram Qasimi mengatakan bahwa itu adalah "pilihan terbaik" bagi AS.
"Saya berharap Amerika Serikat memandang Iran dengan positif dan tidak mengulang kesalahan masa lalu karena situasi di Timur Tengah sangat sensitif," kata dia.
Menurut Qasimi, Presiden AS Donald Trump tidak akan dapat menerapkan semua kebijakan yang direncanakannya. AS telah "terisolasi" karena menarik diri dari perjanjian tersebut.
Dia juga mengatakan bahwa negara-negara Uni Eropa - karena memiliki hubungan erat dengan AS - harus memperbaiki kebijakan Trump soal Iran dan menasihatinya soal kebijakan Asia dan Timur Tengah.
Rusia dan Tiongkok juga harus meyakinkan presiden AS untuk tetap berpartisipasi dalam perjanjian nuklir.
"Trump harus menyadari bahwa kembali ke perjanjian nuklir adalah pilihan terbaiknya. AS harus mencabut sanksi-sanksinya, karena manuver politik seperti itu hanya merusak reputasinya," tandas Qasimi.
Pada tahun 2015, Iran menandatangani perjanjian nuklir dengan kelompok negara P5 + 1 (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman).
Namun, pada bulan Mei tahun ini, Trump secara sepihak menarik AS dari perjanjian itu, yang disebutnya sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah ada".
Washington kemudian memberlakukan sanksi ke Iran yang menargetkan sektor perbankan negara itu.
Sanksi tersebut dimaksudkan untuk menghalangi perolehan mata uang AS oleh Teheran; perdagangan logam mulia; transaksi bank dalam mata uang Iran; kegiatan yang terkait dengan utang Iran; dan sektor otomotif negara.
*Ali Murat Alhas turut melaporkan dari Ankara