Serdar Dincel, Muhammad Abdullah Azzam
18 April 2026•Update: 18 April 2026
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz kembali berada dalam kondisi seperti sebelumnya dan kini berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata, di tengah blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.
Dalam pernyataan pada Sabtu, komando gabungan IRGC menegaskan bahwa jalur perairan strategis tersebut berada di bawah “pengelolaan dan pengawasan ketat” militer Iran, sebagaimana dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim.
IRGC menyatakan situasi di Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kontrol ketat selama Amerika Serikat belum sepenuhnya memulihkan kebebasan pergerakan kapal yang menuju dan keluar dari Iran.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa selat itu “sepenuhnya terbuka” bagi seluruh kapal komersial.
Araghchi menyebut keputusan tersebut diambil sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, melalui pernyataan di platform media sosial X.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke Israel dan sejumlah negara kawasan yang menjadi lokasi aset Amerika Serikat.
Konflik tersebut saat ini memasuki masa jeda sejak 8 April setelah Pakistan memediasi gencatan senjata selama dua pekan.
Amerika Serikat dan Iran juga telah menggelar pembicaraan di Pakistan pada akhir pekan lalu guna mendorong tercapainya perdamaian jangka panjang, sementara upaya untuk mengadakan pertemuan lanjutan di Islamabad masih berlangsung.